Kisah Sukadi dan Keluarganya yang Tinggal di Gerobak

Sukadi sedang beristirahat di pinggir jalan sisi selatan Stadion Kridosono. Ia sedang mengistirahatkan kakinya dengan wajahnya yang tampak lelah.

Penulis: gil | Editor: oda
tribunjogja/ikrargilangrabbani
Sukadi dan Keluarga bersama gerobak yang menjadi tempat berteduhnya saat ditemui di pinggir jalan Stadion Kridosono, Sabtu (2/7/2016). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Jalan perjuangan untuk bertahan hidup tiap orang memang berbeda. Ada yang bekerja seharian penuh, ada yang berdagang dengan keras, ada pula harus rela mendorong gerobak dari Magelang hingga ke Yogyakarta.

Bagi Sukadi (49), hal tersebut sudah Ia jalani selama 20 tahun lebih dan gerobak dorongnya menjadi tempat tinggalnya selama merantau di Yogyakarta

Saat ditemui oleh Tribun Jogja, Sukadi sedang beristirahat di pinggir jalan sisi selatan Stadion Kridosono. Ia sedang mengistirahatkan kakinya dengan wajahnya yang tampak lelah.

Kali ini Ia tidak sendiri, Sukadi ditemani istrinya Romlah (46) beserta anaknya Pujib (23) dan cucunya, Rina (9).

Keluarga ini sedang beristirahat setelah seharian mencari rongsokan keliling kota. Sukadi mengatakan, hari itu sedang sepi karena pengepul rongsokannya sedang libur jelang Lebaran.

"Ya beberapa hari kedepan cuma begini saja, dipinggir jalan menunggu kalau ada yang memberi makan," ujar Sukadi kepada Tribun Jogja, Sabtu (2/7/2016).

Setiap harinya, sejak pukul tujuh pagi, Sukadi mencari rongsokan dari Pasar Beringharjo menuju Umbulharjo, Stadion Mandala Krida, hingga kembali ke Beringharjo melalui Stadion Kridosono.

Selama di Yogyakarta, Sukadi tinggal di dalam gerobaknya yang diparkir di timur Pasar Beringharjo. Gerobak berukuran panjang 1,5 meter dan lebar tidak satu meter berisikan baju-baju untuk hidup sehari-hari.

Selama 20 tahun tinggal di gerobak, Ia berpindah-pindah tempat berteduh.

Sebelum menetap di emperan Pasar Beringharjo, Sukadi pernah tinggal di Terminal bis lama Umbulharjo dan bak sampah di daerah Bausasran, Danurejan, Yogyakarta.

Diakuinya, Ia tidak mempunyai apa-apa lagi selain gerobak sehingga Ia menarik sendiri gerobak dari kampung halamannya di Tegalrejo, Magelang.

"Banyak yang tidak percaya kalau saya narik sendiri gerobak dari Magelang, ya padahal cuma pakai gerobak saya bisa membawa cucu saya ke Yogyakarta," ujar Sukadi.

Ia mengaku merantau ke Yogyakarta untuk mengais rezeki. Istri dan keempat anaknya menjadi buruh tani di Magelang, namun saat Ramadan istri dan satu anaknya ikut membantu Sukadi mengais rongsokan untuk dijual kembali.

Sehari-hari Ia mendapat upah Rp 40 ribu. Uang tersebut hanya cukup untuk makan sehari-hari.

Karena statusnya sebagai manusia gerobak, tidak jarang dirinya menjadi incaran dari satpol PP. Sudah berkali-kali Sukadi harus kejar-kejaran dengan petugas hingga menjadi warga binaan di panti sosial.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved