Ramadan 1437
Puasa Meraih Fitrah Potensi Diri Tertinggi
Selama berbulan-bulan mereka berbuat dosa dan kesalahan, namun cukup dengan satu bulan penuh diri mereka dibersihkan oleh sebuah momen
Penulis: abm | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Septiandri Mandariana
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Manusia merupakan makhluk ciptaan tuhan yang tidak pernah luput dari membuat kesalahan dan dosa.
Selama berbulan-bulan mereka berbuat dosa dan kesalahan, namun cukup dengan satu bulan penuh diri mereka dibersihkan oleh sebuah momen bernama Bulan Ramadan.
Dalam bulan suci tersebut, umat manusia, khususnya para umat muslim melangsungkan ibadah puasa, yang mana mereka harus menahan diri untuk melakukan berbagai kejelekan dan menahan dahaga mereka selama belasan jam.
Banyak yang mengatakan, bahwa puasa sebulan penuh merupakan sarana penyucian diri.
Dalam Bulan Ramadan inipun banyak nilai hikmah yang terkandung, di antaranya seperti nilai disiplin, pengendalian diri, dan kepedulian sosial kepada sesama serta lingkungannya.
Ibadah puasa selama satu bulan penuh tidak hanya sebagai ajang untuk menahan lapar dan dahaga selama belasan jam saja, namun dapatmenuai potensi diri tertinggi manusia yaitu menuju fitrahnya kembali di hari kemenangan.
Psikolog RS UGM, Melina Dian Kusumadewi, S.Psi., M.A., menuturkan, dalam teori stuktur kepribadian dari psikoanalisa, kepribadian manusia terdiri dari Id, Ego dan Superego.
Ketiga dimensi itu ada dalam diri manusia dengan kadar yang berbeda-beda. Melina menjelaskan, Id berisikan tentang insting, dorongan hasrat dan bekerja dengan prinsip kenikmatan.
Sementara Ego bekerja dengan prinsip realita, dan Superego sendiri berisi nilai serta norma.
Menurutnya, ketiga dimensi tersebut bersifat permiabel, dimana diri yang disadari dapat naik menuju kesadaran tinggi, begitupun dapat turun menuju kesadaran yang rendah.
Itu berarti di dalam diri manusia pada suatu waktu dapat didominasi oleh dorongan dan nafsu, begitupun sebaliknya dapat didominasi oleh aspirasi, intuisi dan energi spiritual.
"Setiap diri manusia perlu menyadari pada posisi manakah struktur kepribadiannya saat ini bekerja. Apakah didominasi area kesadaran rendah sehingga perilaku, pikiran dan perasaannya didominasi oleh hasrat dan dorongan semata. Ataukah perilaku, pikiran, dan perasaan kita didominasi oleh energi spiritual sehingga kehendak kita melahirkan sikap yang penuh dengan aspirasi dan terkoneksi dengan orang lain, alam semesta dan dimensi spiritual," kata Melina.
Melina melanjutkan, sebagaimana iman yang dapat naik dan turun, yang mana umat manusia, khususnya para umat muslim perlu menyadari dirinya sedang berada dalam kondisi kesadaran rendah atau kesadaran tinggi.
Naik turunnya kesadaran diri seseorang merupakan proses dinamis dari struktur kepribadian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/doa-ramadan_20150617_155751.jpg)