Drum Speak, Sebuah Projek Album dari Komunitas Total Perkusi
Mereka menyatukan beberapa drummer ternama Yogyakarta, yang namanya sudah tidak asing lagi ditelinga para pecinta musik di tanah air.
Penulis: abm | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Septiandri Mandariana
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Komunitas Total Perkusi, sebuah komunitas yang bergerak dibidang seni musik.
Sejak keberadaannya ditengah masyarakat Indonesia, khusunya Yogyakarta, mereka tidak pernah putus untuk terus berkarya sebagai bukti keberadaannya, dengan bersuara lewat sesuatu yang mereka bisa.
Begitupun di tahun 2016 ini, mereka menyatukan beberapa drummer ternama Yogyakarta, yang namanya sudah tidak asing lagi ditelinga para pecinta musik di tanah air.
Melalui projek album Drum Speak 2016, karya-karya yang diproses dalam beberapa waktu ini resmi dirilis pada Minggu (15/5) di Kantor Total Perkusi yang bertempatkan di Bantul, DIY.
Album Drum Speak 2016 itu memuat sebanyak 8 buah lagu yang diciptakan oleh 8 drummer yang terlibat di dalamnya. Dalam Drum Speak 2016 terdapat lagu berjudul Naik Turun Lurus.. Terus? (Faiz Wong) Graphics Live (Antonius Rendra Susilo Adi), Wat Wat Gawoh (Jaeko), Bali Sounda Remix (Dwi Joko Yulianto), Anak Pesisir (Endy Barqah), Pepaliyanan (Gagah Pacutantra), Jathilanku (Wasis Tanata) dan Starscream (Alvian Vinuria).
Di antara 8 drummer yang terlibat dalam projek tersebut, ada Wasis yang menceritakan tentang lagu yang ia ciptakan berjudul "Jathilanku". Lagu tersebut Wasis ciptakan sejak projek ini direncanakan pada September 2015 lalu.
Dalam perbincangannya bersama Tribun Jogja, Selasa (17/5/2016) siang kemarin, lagunya tersebut memiliki unsur musik modern namun memiliki jiwa musik tradisional.
"Itu sebenarnya pengalaman saya waktu kecil sering mendengar bunyi-bunyian Jathilan itu, dan sering melihat tariannya juga. Saya waktu kecil kaya ketarik pengin ikut menari, mengikuti alunan musiknya. Lalu akhirnya gara-gara tertarik sama teman-teman sebaya saya ikut. Akhirnya saya belajar musiknya, musik dan lainnya," papar Wasis.
Ia melanjutkan, seiring bertambahnya usia, ia banyak mempelajari berbagai kesenian, mulai dari kesenian tradisional lainnya maupun kesenian modern sekalipun membuat apa yang telah Wasis pelajari sebelumnya terkubur lama.
Namun ketika memasuki bangku kuliah, Wasis mulai kembali menyadari bahwa kesenian tradisional harus ia pelajari dan lestarikan.
"Saya orang Indonesia, negeri saya memiliki berbagai hal di dalamnya, di antaranya ada musik. Dan akhirnya saya terpanggil untuk membuat sesuatu yang berbau tradisi. Jathilanku ini saya tidak mau menyebutkan musik apa yang saya mainkan, namun jiwanya mengambil dari Jathilan itu sendiri," jelas Wasis.
Wasis menuturkan, setiap lagu yang ada di dalam album ini seluruhnya menyajikan instrumen musik perpaduan antara suara drum dan instrumen musik lainnya. Dalam lagu "Jathilanku", ia menyajikan instrumen gitar dan bass yang Wasis sebut format trio.
"Jathilanku" ini bukan medium musik tradisional yang ia gunakan, namun lebih kepada ide yang terdapat dalam musik tradisional tersebut.
"Saya di drum, gitar ada Lintar dan di Bass ada Riko. Projek ini menurut saya sangat luar biasa, sebab karya saya di sini dapat terdokumentasi dengan baik, terekam dengan baik, jejaknya bisa diakses, ini jauh banget ke depan. Beberapa tahun ke depan, karya-karyanya masih bisa diketahui oleh banyak orang," imbuhnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/komunitas-total-perkusi_20160518_132629.jpg)