Lipsus Krisis Bahasa Jawa di DIY
Google Justru Lebih Peduli Bahasa Jawa
Melalui aplikasi ini pengguna dapat menggunakan voice input dan juga mendengarkan kembali teks yang dibacakan ponsel dengan bahasa Jawa.
Penulis: Santo Ari | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Google tengah menggandeng UGM dalam mengumpulkan rekaman penuturan bahasa Jawa yang akan dimasukkan dalam program pembuat suara text-to-speech. Ke depan pengguna ponsel pintar berbasis android dapat berinteraksi melalui aplikasi text-to-speech milik Google dengan menggunakan bahasa Jawa.
Melalui aplikasi ini pengguna dapat menggunakan voice input dan juga mendengarkan kembali teks yang dibacakan ponsel dengan bahasa Jawa.
Tidak menutup kemungkinan perekaman tutur bahasa Jawa ini berkembang ke program lain, misalnya google translate yang memudahkan pengguna untuk mengartikan bahasa tertentu ke bahasa Jawa.
Dari kacamata pelestari kebudayaan Jawa, Bagas Arga yang merupakan bagian dari Manajemen Sanggar Seni Kinanti Sekar, mengatakan, ketertarikannya tentang program yang dicanangkan Google. Usaha ini juga bisa dikatakan melestarikan kebudayaan Jawa, terkhusus Bahasa Jawa.
Google yang berpusat di Amerika justru tertarik mengembangkan programnya dengan bekerjasama dengan perguruan tinggi dan mahasiswa di Indonesia. Bukan sebagai tamparan, jutru hal ini dapat digunakan untuk merangsang generasi muda agar lebih mencintai kebudayaannya sendiri.
"Mengenalkan kebudayaan dapat dengan melihat apa yang terdekat. Sekarang anak muda lebih dekat dengan teknologi, dan dengan program ini akan merangsang semangat anak muda untuk mempelejari bahasa Jawa," jelasnya, Rabu (11/5/2016).
Namun demikian ia juga berharap agar masyarakat tidak menjadi orang yang instan karena teknologi. Teknologi semacam ini, menurutnya memiliki dua dampak, yang pertama membuat kebudayaan lebih membumi dan yang kedua teknologi yang memotong jarak antara masyarakat dan kebudyaan itu sendiri.
"Ini tantangan baru. Bisa saja karena teknologi, orang jadi tidak mempelejari lebih dalam budaya itu, dalam hal ini kaitannya dengan bahasa Jawa," tambanya.
Bagas mengatakan, aksara dan tutur bahasa Jawa sangat beragam dan patut dipelajari lebih dalam. Contoh kecil keberegaman aksara dan tutur bahasa Jawa adalah saat membaca huruf vokal e, dimana ada tiga cara penulisan dan cara berbeda untuk pengucapannya.
Untuk membaca tulisan huruf e, dicontohkan seperti pengucapannya mengeja kata ketan (beras ketan). Sementara huruf é seperti saat orang membaca kata wetan (timur), sedangkan è pengucapannya seperti dalam kata mepet (merapat dalam bahasa indonesia).
Identitas budaya
Karenanya, dalam sanggar seni yang ia kelola, pihaknya membuka kelas menulis bahasa Jawa. Andi Wicaksono, pengampu kelas baca tulis aksara Jawa di Sanggar Seni Kinanti Sekar, menjelaskan, aksara Jawa dikerdilkan dengan Romawi yang saat ini digunakan.
Kekayaan bahasa dan aksara Jawa inilah yang patut untuk dilestarikan. Ia menekankan bahwa generasi muda akan terombang-ambing dan hilang arah kalau tidak tahu identitas di mana ia berasal.
Selain itu, kesenian tradisi yang saat ini banyak dilirik tentu tak lepas dari praktisi dan literasi naskah-naskah kuno yang dikemas dalam bahasa dan tulisan lokal. Kitab-kitab atau naskah kuno tentang tarian klasik kebanyakan dibuat dengan bahasa Jawa dan ada banyak yang belum diterjemahkan.
Maka dari itu, pelaku seni haruslah dapat menggali lebih dalam hingga ke bahasa dan sastranya agar seni yang ia pelajari tidak timpang.
"Karena ini menyangkut sejarah. Percuma negara maju, kalau tidak tahu adiluhungnya. Jendela pengetahuan dan kunci sejarah ya terletak di bahasa dan sastranya," tuturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/papan-nama-jalan-mataram_20160513_180745.jpg)