Lipsus Krisis Bahasa Jawa di DIY

Google Justru Lebih Peduli Bahasa Jawa

Melalui aplikasi ini pengguna dapat menggunakan voice input dan juga mendengarkan kembali teks yang dibacakan ponsel dengan bahasa Jawa.

Penulis: Santo Ari | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM | Hasan Sakri
AKSARA JAWA - Rambu nama jalan dilengkapi dengan penamaan nama aksara jawa di Kota Yogyakarta, Rabu (11/5/2016). Penggunaan aksara jawa sebagai penamaan nama jalan sebagai salah satu cara untuk melestarikan bahasa daerah. TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI 

Adapun bahasa Jawa dikenal dengan tingkatannya, ada bahasa ngoko, ngoko alus untuk kehidupan sehari-hari, ada pula bahasa krama dan krama alus untuk diucapkan ke orang yang dihormati atau lebih tua.

Dalam kesempatan itu Bagas kembali menambahkan sudah saatnya pemerintah lebih peduli terhadap pelestarian kebudayaan setempat.

Saat ini hanya segelintir orang yang peduli terhadap pelestarian kebudayaan, terlebih dalam hal ini justru pihak asing yang memadukan kebudayaan dengan teknologi.

"Karena aplikasi ini seluruh dunia dapat belajar bahasa Jawa, jangan sampai justru orang asing lebih pintar dibandingkan dengan orang jawa itu sendiri," tandasnya.

Ia menilai pelajaran muatan lokal yang diterima anak-anak di sekolah terbilang sedikit, jadi bahasa dan tulisan Jawa kalah populer dengan bahasa asing. Terlebih media televisi di Indonesia muatan lokalnya juga kurang, mereka lebih senang dengan asing seperti korea misalnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved