Mahasiswa UGM Coba Kembangan Program Investasi untuk Bantu Keluarga Desa
Rushan dan beberapa temannya dari Universitas Gadjah Mada, memberanikan diri untuk mengembangkan program investasi berbasis pemberdayaan masyarakat.
Penulis: una | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Rona Rizkhy Bunga Chasana
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pengangguran masih menjadi masalah yang belum bisa diatasi di Indonesia. Masih banyak orang di negeri ini yang belum mendapatkan lapangan pekerjaan dan kemudian membawanya kepada jurang kemiskinan.
Apa yang dialami Indonesia tersebut juga tergambar di Desa Kebon Agung, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Menurut Mh Rushan Faizal J, warga kampung , masih banyak pengangguran dan keluarga miskin hidup disana.
Prihatin dengan kondisi kampungnya, Rushan dan beberapa temannya dari Universitas Gadjah Mada, memberanikan diri untuk mengembangkan program investasi berbasis pemberdayaan masyarakat yang diberi nama IWAK.
IWAK sendiri merupakan program investasi baru yang bisa menjadi alternatif seseorang dalam berinvestasi. Tak hanya mampu memberikan keuntungan bagi investor, IWAK juga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Hestyriani Anisa Widyaningsih, Mh Rushan Faizal J, Ade Armyanta Yusfantri, Anggita Arum Pertiwi, dan Ikhsan Budiyanto, adalah tim inti dibalik terciptanya IWAK.
Selain itu, ada 5 tim lainnya yang ikut membantu dalam pengelolaan IWAK.
"Kami memanfaatkan lahan kosong yang ada desa Kebon Agung untuk kolam budidaya ikan. Dan para investor nantinya akan menanamkan modalnya pada budidaya ikan tersebut. Selain berinvestasi tentunya investor juga dapat membantu mensejahterakan masyarakat desa yang ikut serta," ujar Hestyriani Anisa Widyaningsih selaku Ketua pengembang IWAK.
Investor yang tertarik berinvestasi dapat login ke website IWAK.me. Untuk berinvestasi, calon investor harus mendaftar terlebih dahulu di website.
Ketika itu juga, calon investor akan disuguhkan dengan berbagai macam pilihan ikan. Lanjut setelah itu, calon investor dipersilahkan memilih lokasi kolam, dimana untuk saat ini, mahasiswa baru mengembangkan kolam di Nganjuk.
Calon investor kemudian dipersilahkan untuk menulis besaran berapa nilai investasi yang ditanamkan. Adapun investasi yang ditawarkan mulai Rp 150 ribu hingga Rp 15 juta namun bisa juga lebih.
Setelah mengisi identitas, calon investor akan mendapatkan invoice, dan selanjutnya investor dipersilahkan untuk membayar besaran nilai investasi melalui transfer.
“Setelah transfer, berarti investor sudah memiliki akun diwebsite kami. Dari akun tersebut, investor bisa memantau perkembangan kolamnya. Berapa ikannya yang mati, pakannya berapa, itu bisa dipantau. Namun untuk saat ini, kami masih terbatas untuk investasi ikan lele,” tambah Hestyriani Anisa Widyaningsih.
Adapun periode investasi berlangsung hingga 3,5 tahun. Dan hingga bulan ke- 8 investasinya , investor akan menerima pembagian 55% dari setiap panen yang diperkirakan investor sudah mencapai balik modal.
Setelah itu, bagi hasil untuk investor menjadi 35 persen dan sisanya sebanyak 35 persen untuk petani, dan 30 persen untuk manajemen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/tunjukkan-website_20160504_202359.jpg)