Konflik Gua Pindul
Telah Terjadi Pergeseran Budaya di Gua Pindul
Polemik pengelolaan objek wisata Gua Pindul berkaitan erat dengan pergeseran budaya masyarakat sekitar.
Penulis: akb | Editor: Muhammad Fatoni
Cahyo Alkantana
(Presiden Federasi Goa Indonesia dan Asisten Menteri Pariwisata Bidang Percepatan Pengembangan wisata Petualangan)
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Polemik pengelolaan objek wisata Gua Pindul berkaitan erat dengan pergeseran budaya masyarakat sekitar.
Dalam perkembangan dunia pariwisata terjadinya polemik merupakan hal yang lumrah. Pertumbuhan wisata di Goa Pindul pada lima tahun terakhir, yang bersamaan dengan Goa Kalisuci dan Goa Jomblang, mengakibatkan adanya pergeseran budaya masyarakat dalam hal pencarian nafkah.
Seeblum pesatnya perkembangan Goa Pindul, masyarakat di sekitar lokasi wisata itu belum pernah berkecimpung di dunia wisata. Dulunya, rata-rata masyarakat mencari nafkah dengan bekerja di bangunan, transportasi, serta pertanian.
Munculnya dunia wisata sebagai ladang mencari nafkah membuat kekagetan tersendiri bagi mayarakat. Sebab berbeda dengan cara yang telah dipraktekan sebelumnya.
Saat muncul dunia wisata ini, masyarakat sekitar dalam mencari uang menjadi semudah membalikan tangan, berbeda dengan dahulunya.
Perubahan itu membuat semua orang ingin mengikutinya. Namun itulah yang diharapkan dengan mengembangkan destinasi wisata.
Perkembangan operatora yang menangani perjalanan wisata juga berkembang. Mulai dari satu, dua, tiga, hingga kini ada sekitar 11 operator yang beroperasi di wisata itu. Perang harga antar operator menjadi hal yang tidak terelakan.
Persaingan tidak sehat mulai mewarnai jalannya pengelolaan wisata goa itu. Tarif tidak masuk akal dengan patokan asal jalan tanpa memperhitungkan keuntungan, seperti mematok tarif Rp 15 ribu terjadi.
Peperangan tarif murah ini membuat peralihan tersendiri pada Goa Pindul karena banyaknya orang yang mengunjungi.
Sebenarnya, Goa Pindul masuk dalam kategori wisata petualangan. Namun banyaknya orang yang mendatangi goa itu membuta adanya pergeseran status dari wisata minat khusus menjadi wisata umum.
Dalam sehari Goa Pindul sebenarnya hanya memiliki daya dukung antara 500 orang hingga 750 orang pengunjung. Namun yang terjadi saat ini, pada puncak musim liburan, dalam sehari pengunjung Goa Pindul mencapai angka 5000 hingga 7000 orang perhari.
Padahal dalam pengelolaan wisata goa harus ada dua hal yang perlu dipahami dan diperhatikan. Pertama, Anthroposentrisme bahaya terhadap orangnya. Kedua Speleosentrisme, bahaya terhadap goa itu sendiri. Pemaksaan daya dukung Goa Pindul akan membahayakan pada orang serta ornamen, biota, ekosistem, bahkan airnya.
Kasus pemaksaan pengunjung yang melebihi daya dukung terjadi di Goa Gong. Daya dukung di angka maksimal 750 orang, pada suatu saat pernah dipaksakan mencapai 5000 pengunjung dalam sehari. Saat itu banyak sekali orang yang pingsan dalam goa karena kekurangan oksigen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/cahyo-alkantana_20160409_090938.jpg)