Jangan Sekedar Menjual Nama Independen

"Joint harus mampu menjelaskan secara terbuka kepada masyarakat bagaimana rekrutisasi dilakukan. Kriteria calon yang terpilih harus dijelaskan."

Penulis: gil | Editor: oda
Tribun Jogja/ Ikrar Gilang Rabbani
Tribun Jogja kembali menggelar forum diskusi rutin hari ini, Rabu (23/3/2016) dengan tema Jogja Mencari Walikota Ideal di Kantor Tribun Jogja 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pencalonan pejabat publik melalui jalur independen harus mempunyai visi dan misi yang jelas dan basis pendidikan politik yang bagus, tidak sekedar mengusung populerisme dari konsep alternatif dan independen.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Direktur Yayasan Satunama Insan Kamil dalam Diskusi Tribun Corner bertajuk "Jogja Mencari Walikota Ideal" pada Rabu (23/3/2016).

Diskusi yang terselenggara atas kerjasama antara Tribun Jogja dengan Yayasan Satunama tersebut, mendiskusikan fenomena kemunculan bakal calon independen Walikota Yogyakarta 2017 melalui Gerakan Rakyat Jogja Independen (Joint).

Insan mempersoalkan mekanisme rekrutmen dan proses seleksi terhadap calon yang dijaring oleh Joint.

"Joint harus mampu menjelaskan secara terbuka kepada masyarakat bagaimana rekrutisasi dilakukan. Kriteria calon yang terpilih harus dijelaskan. Jangan sekedar memberi alternatif orang atau calon saja, namun juga calon yang mampu memberikan visi misi untuk pembangunan Yogyakarta. Jika alternatif yang ditawarkan, maka alternatif apa yang diinginkan dari teman-teman Joint," tutur Insan

Ia juga mempertanyakan jumlah calon yang diumumkan Joint terlampau banyak sehingga membingungkan masyarakat.

"Sepertinya Joint perlu menjelaskan tentang kandidat yang diusungnya. Bagaimana mekanisme kandisasi dan kriteria dari 30 orang yang diusung tersebut. Harapannya, jangan sekedar menjual populerisme, namun calon harus mempunyai basis politik walaupun bukan berasal dari dunia politik," ujar Insan.

Menurutnya, para calon independen dari jalur manapun jangan sampai miskin ide untuk misi membangun Yogyakarta.

"Calon independen kan memberikan alternatif pemimpin atau figur di mata masyarakat, sehingga harus pantas dicalonkan. Calon independen adalah yang mendapat dukungan langsung dari masyarakat," ujar Insan.

Inisiator Joint, Yustina Neni mengungkapkan, gerakannya berdiri karena kegelisahannya secara pribadi dan teman-temannya.

"Kami resah dengan kepemimpinan Kota Yogyakarta saat ini, pun ketika calon dari partai politik tidak mampu memberikan calon yang kredibel dan dapat dipercaya publik sehingga jalur alternatif dipilih. Terinspirasi dari Ahok di DKI Jakarta, kami menggalang dan mewadahi warga Yogyakarta yang ingin mengentaskan keresahan dengan menjadi Walikota melalui jalur indenpenden," tutur Neni.

Ia menjelaskan, Joint menjadi wadah untuk proses demokrasi alternatif dan pelatihan kepemimpinan bagi masyarakat.

"Kita warga Yogyakarta ini tidak pernah terbangun rasa kepemimpinannya, karena dari dulu calon pemimpin selalu berasal dari partai politik. Sehingga ingin memunculkan figur yang bebas dari unsur partai," ujar Neni.

Diakuinya, Joint merupakan kumpulan orang-orang yang takut namun kesal dengan kepemimpinan saat ini.

Neni menegaskan, warga Yogyakarta sudah waktunya untuk berani menjadi pemimpin dan mengentaskan persoalan Kota Yogyakarta.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved