Ini Penjelasan Terapi Oksigen dan Cara Murah Mendapatkannya

Ahli Fisiologi Fakultas Kedokteran UGM menjelaskan bahwa terapi oksigen hiperbarik tersebut awalnya diterapkan pada para penyelam.

Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: oda
tribunjogja/kurniatulhidayah
dr Zaenal Muttaqien, Ahli Fisiologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada (UGM). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Ahli Fisiologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada (UGM), dr Zaenal Muttaqien menjelaskan bahwa terapi oksigen hiperbarik tersebut awalnya diterapkan pada para penyelam.

Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi keracunan nitrogen yang menyumbat pembuluh darah mereka.

"Ketika penyelam diminta untuk segera naik ke atas permukaan air, mereka harus segera naik, karena nitrogen yang menyumbat pembuluh darah akan mengakibatkan nyeri otot, kejang-kejang, bahkan stroke," ujar Zaenal, ketika ditemui di ruang kerjanya, Senin (21/3/2016).

Namun, seiring berjalannya waktu, imbuhnya, terapi tersebut juga digunakan untuk mempercepat proses penyembuhan. Misalkan untuk penderita diabetes, anemia menahun, efek trauma dari sinar, dan sebagainya.

"Arahnya ke healing process untuk mengecilkan pembengkakan yang terjadi dalam jaringan," bebernya kepada Tribun Jogja.

Terapi yang sudah umum dilakukan di luar negeri tersebut, juga bisa digunakan untuk mencegah infeksi dan penuaan.

Walau demikian, biaya yang tak murah serta belum dapat ditemui dengan mudah rumah sakit yang menawarkan terapi oksigen hiperbarik, alumnus Sport Medicine and Circulatory, Innsbruck, Austria tersebut, menawarkan terapi oksigen dengan biaya yang murah serta bisa dilakukan oleh setiap orang.

"Dasar pemikirannya adalah pemberian oksigen, dan ada cara yang lebih murah memasukkan oksigen hingga ke mitokondria, produsen energi dalam tubuh yang membuat kita fokus, tidak mudah mengantuk, tidak gampang lelah, dan selalu ceria," tuturnya.

Cara tersebut adalah olahraga dengan menerapkan FITT (Frequency, Intensity, Time, Type). Olahraga harus dilakukan dengan rutin, yakni 3-5 klai per minggu.

Intensitas olahraga tidak boleh terlalu ringan maupun berat, bisa diukur melalui denyut nadi tiap orang.

Waktu yang dibutuhkan untuk olahraga tiap sesinya adalah 30-45 menit.

Terakhir, tipe olahraga harus memenuhi syarat yakni ritmis (renang, senam, jogging, jalan cepat, dan sebagainya), berkelanjutan, serta melibatkan otot besar dalam olahraga.

"Olahraga dapat membentuk pembuluh darah baru, sehingga memperlancar proses peredaran oksigen ke seluruh tubuh. Itu adalah cara yang mudah dan murah," tandasnya. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved