Sastra

CERPEN: Asmara Sederhana

lanya satu dua pria yang lewat di depan Dila. Lama-kelamaan sampai belasan lelaki mendekatinya

Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: Iwan Al Khasni

Transaksi Tanpa Adu Berahi

ilustrasi

Motor trail itu pelan dipacu sembari sesekali percakapan basa-basi terlontar dari mulut keduanya. Dila tak biasa diajak pergi tamunya. Hanya pria berkantong tebal dan ingin servis lebih yang bisa mengganggu waktu istirahat. Tapi entah mengapa untuk Tyas dia rela melakukannya.

Tak ada rasa khawatir jika nanti terjadi hal buruk, padahal itu adalah pertemuan kedua dari sebelumnya yang berlalu usai transaksi tanpa adu berahi.

Ada perasaan nyaman seperti di dekat saudara atau teman masa kecil. Dila tak tahu pasti sebabnya. Dia hanya yakin Tyas adalah orang baik yang tak sedikitpun punya niatan meleceti kulitnya yang mulus. Tapi cepat-cepat dia menyadarkan diri jika itu bukan cinta pandangan pertama. Toh puluhan pria yang sudah jatuh ke pelukannya dengan wajah jauh lebih ganteng tak jua merontokkan kesetiaan Dila kepada buah hatinya, Rasya, yang hari ini suhu tubuhnya turun menjadi 37,5 derajat celcius.

Apalagi Dila belum sepenuhnya percaya dengan mulut juga hati para pria. Itu setelah Roy, cinta pertama yang membuahi sel telurnya, kabur kepincut seorang pemandu karaoke di satu pantai ujung utara Jawa. Dengan derap gugup, langkah kaki Dila akhirnya terdampar di lorong pengap satu kota lama sebagai penjaja cinta.

"Udah lama kerja begini mbak?"

"Paling tujuh atau delapan bulanan mas," jawab Dila sesaat setelah memesan dua piring nasi gudeg suwir ayam dan teh manis panas kepada anak buah Mbok Tur.

"Eh eh, Mas Tyas kenapa kok ngajak saya pergi? Jangan bilang kalau jatuh cinta ya. Saya lagi anti sama yang namanya cinta. Laki-laki itu tai babi. Kalau udah dapet enaknya terus pergi gitu aja."

Pernyataan itu bikin lidah Tyas kelu. Dia tak menyangka deretan kata yang meluncur deras dari mulut Dila membuatnya tahu kalau wanita ayu ini sudah punya anak. "Kok tega ninggalin anak bayi gitu kerja beginian," gumam Tyas dalam hati.

"Enggak enggak. Apa aku ada tampang lelaki bajingan? Kan enggak to," jawab Tyas lalu terkekeh. "Aku tuh cuma seneng aja lihat mbak tempo hari itu lho. Seneng rasanya tapi enggak jatuh cinta kok, bener."

Tukar kata dan cerita terus terjadi antara keduanya. Dan memang tak ada perasaan apa-apa yang dirasakan Dila malam itu. Bukan takut, khawatir atau malah jatuh cinta. Hanya senang saja ada teman ngobrol selain Pak Trisno yang rutin membukakan pintu gerbang kosan tiap dini hari.

"Bentar ya mbak tak beli rokok di minimarket itu," ujar Tyas lalu mengambil uang di dompet yang ditaruh di dalam tas kecilnya.

Usai menyambar kunci motor, Tyas melaju meninggalkan tas kecilnya dan Dila di lesehan Mbok Tur. Tak sengaja Dila melirik ke arah tas yang terbuka resletingnya. "Apa itu," kemam Dila. Ditariknya sedikit sampai agak terbuka dan terlihat isinya.

"Hah.. Enggak mungkin, enggak mungkin," tutur Dila di dalam hati dengan wajah terkejut juga mata membelalak.

Bungkusan pantyliner dan sebatang dildo adalah barang tak asing bagi Dila.

"Enggak mungkin. Enggak mungkin," gumamnya sekali lagi dengan kaget yang membuncah.

Dila baru sadar mengapa dua malam lalu Tyas tak melakukan aksi lucah dan hanya memberinya selembaran rupiah. (*)

Halaman
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved