Sastra
CERPEN: Asmara Sederhana
lanya satu dua pria yang lewat di depan Dila. Lama-kelamaan sampai belasan lelaki mendekatinya
Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: Iwan Al Khasni
Aku Enggak Mau Main Kok Mbak
ilustrasi
Dua wanita seumuran yang baru empat tahun resmi memiliki KTP ini memulai malam dengan suasana hati berbeda. Lena, meski capek tapi senang bukan kepalang lantaran Andri sang kekasih yang seorang karyawan kantoran di pusat kota membelikan ponsel baru.
Di sudut lain, Dila agak gontai setelah dikabari jika anaknya di kampung sedang sakit. Meski sudah kirim uang lewat transfer rekening bank, Dila sebenarnya ingin pulang melihat sang putra yang lahir sembilan bulan lalu.
Tapi apa lacur, Dila harus terus terjaga di sisa malam untuk memastikan kopeknya terisi arta. Cicilan motor bebek tak boleh terlewatkan kalau tak mau berakhir di tangan penagih utang.
"Dil ada telepon," pekik Lena sejenak memecah lamunan Dila.
Ponsel Dila sejak setengah jam lalu dicas di kamar tengah yang tadi sudah dipasang sprei untuk menyambut tamu. Tertera di layar ponsel itu nama Tyas. Dia adalah tamu terakhir dua malam sebelumnya. Tamu yang cukup istimewa, karena hanya memberi uang tanpa perlu menyentuh kulit apalagi dibumbui aksi menjimak.
"Aku enggak mau main kok mbak. Cuma pengin lihat wajah mbak dari dekat."
"Hmmm biasa.. Modus kuno. Mau bilang wajahku mirip mantanmu? Enggak mempan mas. Pokoknya ya tetep bayar, wong udah ngamar kok."
"Iya mbak aku bayar." Tyas mengeluarkan selembaran Rp100 ribu dari dompetnya. "Tapi aku boleh minta nomor hape mbak ya?"
Dua manusia ini akhirnya bertukaran nomor ponsel dan saling tahu nama masing-masing. Tyas pulang dengan girang meski gajinya yang tak lebih dari upah minimum kabupaten itu berkurang untuk memberi sangu Dila.
Hari itu, Selasa malam, Tyas menelepon meski dia tahu Dila sedang dinas. Tyas ingin mengajak makan di warung gudeg pojok emperan toko swalayan selepas Dila berwiraswasta badan.
"Halo, ada apa mas?"
"Mmm, gini.. Mau ngajak Mbak Dila makan nanti abis bubaran kerja. Mau enggak? Di gudeg Mbok Tur timur alun-alun itu."
"Kalau mau jemput ya enggak apa-apa. Tapi enggak boleh macem-macem lho!" hardik Dila di ujung telepon disambut kata siap dari Tyas.
Pekat berlalu seperti biasanya bagi Dila. Daging bertemu daging diiringi langgam lenguhan juga nafas terengah adalah sajian rutin. Selalu begitu sejak berbulan lalu, di tempat yang sama, kamar sama yang hanya seukuran 2x2 meter. Juga di teras yang sama, tempat di mana tempias hujan beradu cepat sampai ke tanah hanya untuk menguarkan baunya.
Udara malam terlalu dingin untuk ditembus sekenanya berkendara motor tanpa jaket tebal dan sepatu lengkap dengan kaus kaki. Anasir penyusun pekatnya malam semakin merapat membentuk gumpalan halimun menggelayut turun dari bukit di utara sana.
Tyas tahu malam muram sebentar lagi akan berganti yaum penuh senyum. Waktunya membasuh muka, berganti busana kemudian menjemput Dila sepulangnya berwiraswasta. Jarum pendek jam baru saja tergelincir di antara angka satu dan dua.
Rambut disisir rapi ke belakang, sepatu Doc Marten, jaket kulit warna hitam plus celana denim biru navy Levis 505 belel robek di lutut menjadi setelan pas bagi Tyas. Tak ada maksud lebih. Hanya makan sambil berbincang menunggu pagi menjelang. Itu saja yang ada dalam benaknya. Entah di palung hatinya terdalam.
"Mau jemput Dila pak. Udah janjian makan di gudeg Mbok Tur," ucap Tyas kepada penjaga indekos Dila. "Rokok pak?" tawarnya buru-buru bermaksud mengambil hati pria tua berjenggot lebat.
"Hei aku udah siap. Pergi dulu ya Pak Trisno," ujar Dila dari depan pintu kamar yang berada di ujung persis sebelah kanan gerbang. Pak Trisno mengangguk, tersenyum. "Hati-hati Mbak Dila."