Sastra

CERPEN: Asmara Sederhana

lanya satu dua pria yang lewat di depan Dila. Lama-kelamaan sampai belasan lelaki mendekatinya

Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: Iwan Al Khasni
Hdwallsize.com
ilustrasi 

Belum lama matahari kembali ke peraduannya, ketika sejumlah wanita mulai merias rupa lalu menyilangkan kaki jenjangnya di lorong temaram. Lampu-lampu mulai dinyalakan pertanda aktivitas malam menggeliat sesuai arahan semesta.

Dila baru saja selesai mandi. Dia mencari tumpukan baju yang sore tadi diambil dari binatu. Celana pendek hitam berbahan denim, kira-kira lima sentimeter di atas lutut menjadi andalan untuk dikenakan Selasa malam itu. Kebetulan itu baju belum genap dua minggu dibeli. Akan dipadukan dengan kaus putih bergambar hati warna merah tepat di bagian dada.

Sambil menyisir rambut lurus sebahu, wanita asal Jawa Tengah itu menyemprotkan parfum beraroma Bvlgari Omnia Crystalline khas negeri pizza dari satu botol kecil ke tengkuknya. Bukan parfum asli memang, tapi sekedar minyak wangi isi ulang yang ditebus seharga Rp7.500 per mililiter.

"Aku nanti pakai kamar yang tengah aja ya. Spreinya udah aku ganti kok," kata Dila kepada sejawatnya, Lena, sembari terus memandangi cermin oval yang digantung di dinding.

"Iya dil. Aku lagi capek hari ini, seharian pergi sama Andri. Nampang agak malaman aja lah. Paling juga sepi," jawab Lena dari kamar sebelah yang cuma dipisahkan tembok setinggi dua meter.

Bulan makin menampakkan wajah serta sinarnya di langit tenggara. Suasana lorong tempat Dila duduk persis di ujung atas anak tangga pun tambah semarak. Mulanya satu dua pria yang lewat di depan Dila. Lama-kelamaan sampai belasan lelaki mendekatinya. Ada yang malu-malu, ada pula yang tanpa basa-basi bertanya, "Berapa say?"

Jarum di arloji Q&Q warna putih Dila menunjuk ke angka delapan lebih 21 menit. Belum juga satu pria yang berhasil meluluhkan hatinya dengan syaratselembar uang kertas merah bergambar Sukarno-Hatta. Padahal Lena yang satu induk semang belum unjuk gigi. Dia masih bercelika asyik dengan gawainya di dalam kamar. Konon, Lena, perempuan berkulit kuning langsat ini adalah idola lorong sempit sepanjang berpuluh-puluh meter tempat Dila bekerja.

Sejatinya paras ayu dengan mata sendu Dila juga banyak penggemarnya. Ditambah dengan manisnya senyuman membuat para pria kerap jatuh di pelukan lalu berakhir tanpa daya.

"Tumben jam segini masih nganggur Dil. Kayaknya ramai tuh tadi yang mampir?"

"Mosok nawar kok lima puluh ribu. Lha emange ini punya negara apa," katanya ketus. "Kamu masih belum 'on' Len? Apa sekalian libur aja, nanggung udah malam gini."

"Lihat entar lah. Kalau males ya tidur, kalau enggak ya tak nusul kamu."

Halaman
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved