Ribuan Petani Durian Candimulyo Magelang Terjebak Sistem Ijon

Kondisi ini membuat petani durian hanya gigit jari tidak menikmati keuntungan yang berlebih atas panenan mereka.

Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Muhammad Fatoni

Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - 80 persen dari sedikitnya 2.800 petani durian di Kecamatan Candimulyo menjual panenan mereka dengan sistem ijon, bahkan musiman pada pedagang.

Kondisi ini membuat petani durian hanya gigit jari tidak menikmati keuntungan yang berlebih atas panenan mereka.

Penanggung Jawab asosiasi masyarakat, buruh, petani dan pedagang durian Amrih Dadi Mulyo, Puguh Djaka Sulistya menjelaskan, petani mengijonkan durian hasil panen ini karena tidak memiliki modal.

Termasuk, akses ke lembaga keuangan untuk biaya pemeliharaan tanaman, tidak terampil memelihara, dan tidak punya cukup waktu.

“Dari semuanya itu, faktor kemiskinan petani durian menjadi salah satu penyebab utama,” katanya, Kamis (3/3/2016).

Padahal, perputaran uang dari durian tersebut, ujar Puguh, jika diasumsikan mencapai Rp 25 miliar saat panen. Hal itu dihitung dari tanaman durian yang tersebar di 19 desa Kecamatan Candimulyo dengan sekitar 18 ribu tanaman produktif.

Asumsinya pohon durian produktif menghasilkan 100 buah per musim dengan rata-rata harga di petani Rp 12.500 / buah.

Adapun tanaman durian muda belum produktif terdapat sekitar 24 ribu. Di Candimulyo sendiri produksi durian tiap pohon antara 30 hingga 150 buah per musim.

“Jika dirata-rata, petani bisa mendapatkan keuntungan Rp 20 juta sekali panen. Atau jika di rata-rata, sebulan bisa mendapat keuntungan Rp 2 juta. Namun, itu jarang terjadi, 20 persen petani saja yang memelihara dan memasarkan durian sendiri. Sisanya, dijual saat masih pentil atau ijon pada pedagang,” katanya.

Lebih parahnya, beberapa petani juga tergiur dengan kontrak musiman, padahal cukup beresiko dan merugikan petani. Dia menyebut, meski produksi dan permintaan durian terus meningkat, namun berbagai persoalan terus dihadapi petani.

Mereka kurang terorganisir sehingga tidak memiliki nilai tawar. Akibatnya, nilai produktivitas dan kualitasnya rendah.

"Bahkan harga durianya murah dan tidak mampu berkompetisi dengan durian impor," urainya.

Puguh menyebut, meskipun sudah ada tiga kali festival durian, namun, belum mampu meningkatkan jumlah transaksi. Dia menyebut, jika petani bisa bersatu menggalang kekuatan dan wawasan maju, maka hidup petani durian akan lebih sejahtera.

Apalagi, sumbangan usaha durian sangat berarti bagi lebih dari 500 buruh petani yang memproses pemeliharaan dan pemanenan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved