Rumah di Manisrenggo Klaten Ini Jadi Saksi Sejarah Pasukan Gerilya AH Nasutian

Rumah milik mantan Lurah Kepurun pertama itu menyimpan cerita sejarah perlawanan pasukan gerilya

Tayang:
Penulis: pdg | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Padhang Pranoto
Suasana di bekas rumah Lurah Kepurun pertama Parto Harjono, yang sempat dibuat markas gerilya, namun kondisinya kini memrihatinkan. Rumah tersebut terletak di Desa Kepurun, Kecamatan Manisrenggo, Klaten. Sabtu (13/2/2016). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Padhang Pranoto

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Sekilas terlihat bekas kediaman Parto Harjono, hanyalah dinding-dinding berlumut yang tak terawat.

Namun siapa sangka rumah milik mantan Lurah Kepurun pertama itu menyimpan cerita sejarah perlawanan pasukan gerilya A.H. Nasution melawan Agresi Belanda ke II.

Terletak di Desa Kepurun, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten rumah bersejarah itu terletak di belakang monumen Markas Komando Djawa (MBKD) Pos X.

Jika tak memperhatikan betul, bangunan itu terlihat seperti rerimbunan pohon perdu.

Namun ketika dilihat seksama, terlihat undakan dan beberapa bagian dinding yang masih berdiri.

"Ya bangunan tersebut sudah lama terbengkalai, sudah lama tidak terurus," kata Sukirah (64) warga setempat, Sabtu (13/2/2016)

Menurutnya, semenjak kematian pemiliknya kini pewarisnya sudah tidak tinggal ditempat tersebut. Mereka sudah menyebar diberbagai daerah.

Menurut ingatannya, saat pertama kali pindah ke Desa Kepurun, ia sempat menyaksikan rumah tersebut utuh.

Akan tetapi, setelah tahun 1980an, rumah itu lantas dibongkar dan kini ditinggalkan oleh pewarisnya.

"Itu dulu rumahnya besar ada pohon bambunya rimbun sekali. Sekarang sudah hilang. Sumurnya tidak dipakai lalu ditutup," katanya.

Menurut Sukirah, kini bangunan itu sering dijadikannya tempat menggembalakan dombanya. Saat rezekinya bagus, terkadang ia juga menemukan buah durian jatuh dari pelataran bekas rumah lurah itu.

Tokoh masyarakat desa setempat Widodo (66), membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan, dahulu kala tempat tersebut merupakan markas bagi A.H. Nasution merencanakan perang gerilya guna merebut Yogyakarta dari Belanda.

Berdasarkan ingatannya, tempat tersebut digunakan sebagai markas pada tahun 1948 hingga 1949.

"Dulu Pak Saeran, ajudannya pak Nasution pernah bercerita, posnya tidak hanya disitu tapi berpindah-pindah, mulai dari Dusun Tarub, Sanggean dan Baturan. Namun markasnya disitu. Mungkin hal itu untuk mengecoh musuh," kata mantan Kades Kepurun itu.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved