Pesan Persatuan Lewat Jatilan

Mereka tetap berhasil menghibur pengunjung yang memadati Alun-Alun Sewandanan Pakualaman Jogja.

Penulis: usm | Editor: oda
tribunjogja/usmanhadi
Sejumlah Penari Jatilan tengah memperahakan keahliannya pada acara Mangayubagyo Jumenengan PA X, di Alun-Alun Sewandanan Pakualaman Jogja, Sabtu (6/2). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Usman Hadi

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Lantunan Gamelan itu mengiringi gerak-gerik bocah yang gontai menari. Sesekali raut muka penari tersebut menebar senyum manis ke sejumlah pengunjung.

Sigap dan tangkas, itulah penampilan mereka dan berhasil membawakan jatilan dengan apik.

Meski penampilan bocah-bocah penari itu hanya prolog dari proses jatilan yang panjang. Mereka tetap berhasil menghibur pengunjung yang memadati Alun-Alun Sewandanan Pakualaman Jogja.

Buktinya banyak pengunjung tertawa lepas, dan tepuk tangan riuh terdengar saat penari penunjukkan kepiawaianya, Sabtu (6/2/2016).

Ya, jatilan itu dibawakan Jatilan Tirto Arum Sari. Jatilan ini adalah satu dari sekian rangkaian acara, 'Mangayubagyo Jumenengan PA X'. Mangayubagyo adalah inisiatif masyarakat, dimaksudkan unruk menyambut Paku Alam yang baru.

"Persiapan kami untuk acara ini setengah bulan," ungkap Projo Winarto, Ketua Umum Jatilan Tirto Arum Sari.

Alur cerita jatilan yang ditampilkan berkisah tentang suatu kampung yang berseteru karena berebut mata air.

Meski sebenarnya kedua kampung bisa saling berbagi, namun karena jiwa manusia amat serakah, perseteruan kedua kampung tersebut tak terelakkan.

"Suasananya keruh karena pengaruh dari yang tidak kelihatan (hawa nafsu, dan bisikan-bisikan, red.)," ulas Projo.

Akhir dari alur jatilan yakni antara kedua kubu yang berseteru akhirnya dapat berdamai. Salah satu prasyarat perdamaian itu yakni masing-masing kampung harus mengesampingkan ego sektoralnya.

"Manusia itu harus menahan hawa nafsu kalau mau bersatu," paparnya.

Kisah yang ditampilkan jatilan ini sekaligus menjadi kritik kondisi Indonesia sekarang. Menurut Projo, kondisi lapisan masyarakat di Indonesia dari elit sampai kalangan awam, saat ini tengah rentan konflik hasil gesekan antar sekterian.

"Kami pengennya warga Indonesia tetap bersatu," tegasnya.

Projo, yang telah menekuni profesi jatilan lebih dari 20 tahun ini berujar bahwa sekarang ini yang menjadi tantangan, yakni banyak kalangan muda yang enggan melirik tradisi nenek moyangnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved