Mi Instan Tetap Jadi Favorit Mahasiswa Meski Dikatakan Tak Sehat

Biasanya dalam sehari kami menghabiskan dua kardus mi goreng dan satu setengah kardus mi rebus. Setiap kardus, berisikan 40 bungkus mi instan

Penulis: Hamim Thohari | Editor: Ikrob Didik Irawan

Terkait dengan kampanye makanan sehat yang disuarakan oleh YLKI dan dalam kampanye tersebut menyebutkan bahwa mi instan adalah makanan yang tidak sehat, Andi merasa cukup khawatir hal tersebut dapat mengganggu usaha anggotanya.

“Kami sebagai penjual produk dari produsen mi instan, cukup khawatir jika ada isu negatif mengenai produk yang kami jual. Kami khawatir nantinya konsumen jadi takut mengkonsumsi mi instan,” ujar Andi Waruga.

Lebih lanjut dia mengatakan, selama ini para pemilik Burjo hanya menjual produk mi yang berlabel halal dan telah tersertifikasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Dengan dua label tersebut kami menyakini bahwa barang yang kami jual aman. Sekarang tinggal bagaimana masyarakat menanggapi hal ini,” tambahnya.

Sebagai pihak yang hanya menjual produk mi instan, Andi Waruga berharap jika pun ada yang kurang pas dalam kandungan mi intan sebaiknya YLKI ataupun pihak terkait lainnya memberikan teguran dan arahan langsung kepada produsen.

Dengan menyebarkan informasi ke masyarakat mengenai dampak negatif mi instan tanpa adanya teguran di level produsen, Andi Waruga khawatir banyak pelaku usaha kecil yang terkena dampaknya. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved