"Penjual Peyek Jingking" Akhirnya Tampil di Bioskop
Film fiksi Siti bercerita tentang kebebasan perempuan dalam memilih kebahagiaan dirinya.
Penulis: una | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Rona Rizkhy Bunga Chasan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Siti adalah seorang penjual peyek jingking di sekitar Pantai Parangtritis. kelumpuhan suaminya membuat Siti akhirnya harus bekerja menjadi pemandu karaoke demi menambah penghasilan.
Pekerjaan Siti justru menyebabkan perdebatan dirinya dengan suaminya. Perkenalannya dengan Gatot, seorang polisi membuat hati Siti pun akhirnya menjadi bimbang.
Cerita di atas merupakan sebuah penggalan dari film yang berjudul Siti. Siti lahir dari seorang Edi Cahyono yang menginginkan untuk melakukan syuting di daerah Parangtritis.
Keinginannya tersebut akhirnya membawa dirinya untuk melakukan observasi mengenai kehidupan yang ada disana.
Di waktu observasinya tersebut, Edi kemudian menemukan sebuah karaoke yang ditutup oleh pihak kepolisian yang kemudian didapati kabar bahwa seorang lady club meninggal ditempat karena oplosan.
Penemuannya tersebut kemudian membawa Edi pada ide-ide lainnya yang kemudian dikumpulkan dan lahirlah Siti.
Film fiksi Siti digarap bersama oleh Fourcolour Films Jogjakarta. Film tersebut bercerita tentang kebebasan perempuan dalam memilih kebahagiaan dirinya.
Hidup Siti yang dirasa tidak berwarna, penuh dengan tekanan dalam hidupnya, membuat Edi akhirnya memilih untuk membuat film Siti menjadi hitam putih.
Siti dirilis tahun 2014 tepatnya saat Jogja Asian Film Festival berlangsung. Tidak disangka Siti akan berumur panjang. Siti awalnya disiapkan untuk bertarung ke berbagai festival tingkat Internasional.
Sesuai dengan harapan, Siti pun diterima di ajang Internasional seperti Singapore International Film Festival 2014 (Best Performance), dan International Film Festival Rotterdarm. Setelah berhasil di Rotterdam ternyata Siti bisa diputar ke lebih dari 10 festival film lainnya.
"Ketika itu saya merasa ini sudah balik modal. Balik modal di sini bukan berarti secara materi tetapi balik modal dalam hal prestasi," ujar Ifa Isfansyah selaku produser.
Tak disangka perjalanan Siti akan begitu panjang, setelah prestasinya di berbagai festival baik dalam mapun luar negeri, Siti kembali mencuat ketika memenangkan penghargaan Film Terbaik di ajang bergengsi Festival Film Indonesia.
Nama Siti kemudian membooming hingga akhirnya Siti akan tayang di bioskop 28 Januari 206 mendatang.
"Banyak pihak yg menyalahkan karena Siti gak dibawa ke bioskop. Semua ini bukan masalah komersial. Tapi tujuannya lebih kepada untuk menmbah film Indonesia lebih beragam kemudian film ini nantinya akan mengedukasi masyarakat. Siti dibawa ke bioskop bukan karena banyak tuntutan yang ingin menonton Siti tapi ini merupakan sesuatu yang penting untuk membawa Siti ke ruang yang mudah di akses," tambah Ifa saat konferensi pers, Selasa (26/1/2016) bertempat di Tjokro Style, jalan Menteri Supeno 48, umbulharjo Yogyakarta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/adegan-film_20160127_012241.jpg)