Taman Sari Bukan Tempat Sultan Melihat Para Putri Mandi

Penghageng Kraton Yogyakarta, KRT Jatiningrat menegaskan jika fungsi utama Taman Sari merupakan tempat peristirahatan Sultan dan keluarga.

Taman Sari Bukan Tempat Sultan Melihat Para Putri Mandi
Tribun Jogja/Hamim Thohari
Taman Sari 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penyimpangan sejarah Taman Sari yang dilakukan oknum guide yang tidak bertanggungjawab, membuat pihak Kraton perlu meluruskan fakta sejarah yang ada kepada wisatawan.

Penghageng Kraton Yogyakarta, KRT Jatiningrat menegaskan jika fungsi utama Taman Sari merupakan tempat peristirahatan Sultan dan keluarga, Minggu (3/1/2016).

Pria yang akrab disapa Romo Tirun tersebut memberikan klarifikasi terkait berita sensasional yang menceritakan tentang maksud Sultan menghabiskan waktu di Taman Sari untuk melihat para putri mandi adalah hal yang tidak benar dan dianggapnya keterlaluan.

"Wah itu cerita nggak bener dan hanya mencari sensasional kalau diceritakan Sultan ada di bangunan atas Kolam Binangun lalu melemparkan sesuatu, melihat putri-putri mandi dan sebagainya, itu keterlaluan dan nggak bener," tegasnya ketika dihubungi Tribun Jogja.

Taman Sari, imbuh Romo Tirun, merupakan tempat peristirahatan Sultan di tengah kejengahannya memikirkan permasalahan yang terjadi di negaranya.

Walaupun Taman Sari merupakan persinggahan untuk melepas penat, namun tempat tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga Sultan dan keluarga tetap aman dari serangan musuh.

"Bangunan di sana dibangun sedemikian rupa. Sehingga kalau ada bahaya, Sultan dan keluarga yang sedang beristirahat di Taman Sari bisa menyelamatkan diri ke luar kota melalui lorong bawah tanah yang sekarang sudah ditutup," kata Romo Tirun.

Sementara itu, selaku sosok yang seringkali didapuk sebagai narasumber pembekalan sejarah Kraton kepada para guide baru, menambahkan, jika para guide sensaisional tersebut perlu sering-sering dibekali tentang informasi sejarah.

"Patokannya adalah denah. Ketika mereka bisa menguasai denah, mereka akan menjadi guide yang lurus. Maksudnya mereka akan berbicara tentang fakta sejarah, mulai dari bangunan, lokasi, pembuat, dan sebagainya. Wisatawan juga harus pintar untuk meminta guide mengantarkan mereka ke tempat yang sesuai dengan denah Taman Sari. Jangan jadi pendengar tentang cerita yang tidak benar tersebut," pungkasnya.

Sebelumnya, Arkeolog yang kebetulan mengunjungi Taman Sari memaparkan kesaksian wisatawan yang ia temui di sana.

Wisatawan tersebut mendengar cerita dari guide yang menyebutkan bahwa di Taman Sari, Sultan pernah melempar bunga ke kolam untuk memilih perempuan mana yang akan diajak beliau (bercinta, red). (tribunjogja.com)

Penulis: kur
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved