Liputan Khusus

Hati-hati, Virus dan Malware Serang Internet Banking

Akun internet bankingnya diretas dengan melakukan reset password internet banking.

Penulis: dnh | Editor: Muhammad Fatoni

Laporan Reporter Tribun Jogja, Dwi Nourma Handito

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Terkait dengan kasus yang dialami Primayanti, CIMB Niaga dan XL sudah menghubungi mereka dan untuk CIMB Niaga sudah ada pertemuan, namun hingga akhir pekan kemarin belum ada kejelasan kongkrit, ia berharap uang miliknya bisa kembali.

Ia juga akan menempuh langkah-langkah yang ada untuk kasus ini sesuai dengan tahapan yang bisa dilakukan.

Di Yogyakarta, kasus yang dialami oleh Prima bisa disebut sebagai kasus yang langka, namun ternyata di daerah lain juga ditemukan kasus yang modusnya hampir serupa.

Tribunnews.com belum lama ini melansir kasus serupa juga dialami oleh seorang nasabah bank yang sama yakni CIMB Niaga Madiun bernama Hengky Budiono.

Kasus Hengky modusnya hampir sama , Hengky merasa tidak melakukan transaksi namun ia kehilangan uang Rp 750 juta.

SIM Card miliknya pun sempat tidak berfungsi dan setelah diganti ternyata ada notifikasi transanksi via mobile banking, padahal nomor tersebut tidak ia daftarkan untuk mobile banking.

Kasus lain yang berhubungan dengan internet banking dan SIM card adalah kasus yang terjadi di Jakarta tahun lalu, dialami oleh Tjho Winarto nasabah prioritas Permata Bank yang rekeningnya dibobol sebanyak Rp 245 juta.

Akun internet bankingnya diretas dengan melakukan reset password internet banking.

Sama seperti kasus Primayanti, ada seseorang yang meminta pembuatan SIM card nomor miliknya dengan menyerahkan surat kuasa palsu dan fotokopi KTP milkinya. Setelah itu selesai, pemindahan uang pun terjadi.

Sementara itu, AKBP Muhammad Nuh Al-Azhar dari Lab Digital Forensic Puslabfor Mabes Polri mengatakan, jebolnya internet banking ataupun mobile banking bisa disebabkan karena adanya malware dan virus yang masuk melalui link-link palsu. Hal ini pula yang menyebabkan adanya kasus bobolnya email.

Masyarakat pengguna internet diminta waspada, terlebih menurutnya dari data Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) pada 2014 ada 48 juta serangan siber atau cyber attack.

"Harus berhati-hati karena ada yang namanya cyber attack," ujar pria yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Forensik Digital Indonesia akhir pekan kemarin.

Pengguna internet bisa saja menjadi korban maupun calon korban. Sebagai contoh seseorang memiliki rekening dan menggunakan internet banking, namun setelah dibobol ternyata nominal yang ada sedikit dan tidak jadi dibobol, dalam hal ini orang tersebut seudah menjadi calon korban.

Cyber attack juga bisa dilakukan dimana saja karena borderless tanpa batasan. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved