Orangtua ABK Harus Terbuka
Menjadi orangtua Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bukan perkara mudah, termasuk dalam mengarahkan pendidikan buah hati
Penulis: ang | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan reporter Tribun Jogja, Angga Purnama
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Menjadi orangtua Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bukan perkara mudah, termasuk dalam mengarahkan pendidikan buah hati.
Kendati demikian, dibutuhkan keputusan besar agar ABK tetap mendapatkan pendidikan yang terbaik dan sesuai dengan kebutuhannya.
Di Sleman, meski Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat sudah membuka akses pendidikan inklusi, namun hingga saat ini belum banyak orangtua ABK yang mengarahkan anaknya untuk menempuh pendidikan di sekolah inklusi.
Sebagian besar orangtua ABK lebih memilih Sekolah Luar Biasa (SLB) sebagai solusi pendidikan tanpa melihat potensi dari buah hatinya.
Padahal jika digali lebih jauh, ABK memiliki potensi seperti halnya anak lainnya.
Eni Yusmiyanti (39) salah satu orangtua ABK mengaku pernah berpikir bahwa SLB merupakan solusi bagi anaknya.
Namun ternyata, setelah diobservasi lebih jauh, anaknya, Abid (12) dengan kondisi tuna grahita ringan dianggap mampu untuk menempuh pendidikan di sekolah inklusi.
"Saat pertama kali dipindah, sangat berat. Karena orangtua benar-benar dilibatkan untuk mengarahkan anak. Berbeda ketika di SLB, orangtua lebih tenang karena pendampingannya lebih intensif," ungkapnya saat ditemui di SDN Sendangadi 2, Senin (23/11/2015).
Menurutnya memindahkan anaknya di sekolah inklusi merupakan keputusan besar yang diambil keluarga.
Pasalnya dengan keputusan tersebut, membuat keluarganya harus mau lebih terbuka dengan kondisi anaknya.
"Kami harus menyampaikan kondisi yang sebenarnya kepada sekolah, dengan demikian bisa ditemukan cara yang tepat dalam mengarahkan anak kami agar dapat terus berkembang," kata warga Sariharjo, Ngaglik itu.
Eny mengungkapkan tanpa adanya keterbukaan dari orangtua, maka justru akan menghambat perkembangan anak. Ia berpendapat, dengan berani terbuka maka orangtua juga telah menerima kondisi anaknya.
"Jangan ditutup-tutupi, harus berani terbuka. Mereka (ABK) perlu perhatian khusus agar bisa berkembang," paparnya. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/abk_546_20151123_201805.jpg)