Pilkada Bantul

Debat Cabup Bantul Berlangsung Panas

Debat publik putaran pertama pilkada Bantul 2015 yang dihelat pada Kamis (19/11/2015) berlangsung panas

Penulis: apr | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Anas Apriyadi
Debat publik putaran pertama pilkada Bantul 2015 yang dihelat pada Kamis (19/11/2015) berlangsung panas mempertemukan kedua Calon Bupati Bantul yaitu Suharsono dengan Sri Surya Widati. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Anas Apriyadi

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Debat publik putaran pertama pilkada Bantul 2015 yang dihelat pada Kamis (19/11/2015) berlangsung panas mempertemukan kedua Calon Bupati Bantul yaitu Suharsono dengan Sri Surya Widati.

Debat yang bertempat di Studio Jogja TV, Brebah, Sleman tersebut mengambil tema layanan dasar, peningkatan ekonomi kecil-menengah dan tata ruang dengan dimoderatori oleh akademisi UGM, Mada Sukmajati.

Suasana panas debat sudah terasa saat penyampaian visi-misi dimana cabup nomor urut satu, Suharsono dalam pemaparannya langsung menekankan pada pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

"Kebijakan saya dalam pemberantasan KKN adalah karen kita masuk di birokrasi pemerintahan, kebijakan harus sesuai normanya jangan sampai melanggar aturan yang ada," jelas Harsono.

Sedangkan Cabup Petahana, Sri Surya Widati menggunakan semboyan Bantul sebagai visinya yaitu mewujudkan Bantul PROJOTAMANSARI Sejahtera, Demokratis dan Agamis.

"Kita ingin mewujudkan Bantul yang produktif-profesional, ijo royo-royo, tertib, aman, asri. Itu adalah Projotamansari," ungkap Ida.

Debat makin memanas saat dalam tiap sesi, cabup Suharsono melontarkan kritik kepada jalannya pemerintahan masa cabup petahana Sri Surya Widati.

Tiap kritik yang dilontarkan Harsono juga mendapat cemoohan dari pendukung Ida-Munir di luar studio yang membuat situasi makin panas.

Dalam bidang layanan dasar, Suharsono mengungkapkan banyak mendapat laporan banyaknya pungutan liar pendidikan di Bantul serta belum meratanya layanan kesehatan.

Karenanya dalam salah satu misinya Ia menekankan wajib belajar 12 tahun, termasuk siswa berkebutuhan khusus dan menyediakan perawatan kesehatan yang memadai untuk seluruh lapisan masyarkat dengan pemberian keringanan sampai pembebasan biaya bagi masyarakat pra sejahtera.

Konversi Lahan

Harsono juga menghkawatirkan laju konversi lahan pertanian menjadi pemukiman di Bantul semakin sering terjadi sehingga akan mencegahnya agar para produksi tani Bantul juga tetap terjaga.

Mengenai pengembangan ekonomi kecil-menengah Harsono menyayangkan kebijakan pemda yang dianggapnya masih belum berpihak pada pedagang kecil dengan banyaknya lintah darat dan makin berkembangnya toko berjejaring di dekat pasar tradisional.

"Bantul punya Bank Bantul, kenapa tidak melayani rakyat kecil dan hanya melayani pejabat," terangnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved