Warga Dukun Salah Sebut Singkatan BNPB

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), untuk menyosialisasikan penanggulangan bencana melalui media kesenian tradisional, berupa wayang kulit.

Tayang:
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: oda

Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Kesenian wayang kulit dengan tajuk “Kenali Bahayanya, Kurangi Resikonya”, menjadi salah satu hiburan bagi warga di wilayah Kawasan Resiko Bencana (KRB) III Merapi, Desa Dukun, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Sabtu (31/10/2015) malam.

Kesenian itu merupakan terobosan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), untuk menyosialisasikan penanggulangan bencana melalui media kesenian tradisional.

Suasana berbeda terjadi di Lapangan Gluduk malam itu, lantaran, Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, meminta warga setempat baik orang tua maupun anak-anak naik di panggung.

Untuk orangtua, Sutopo meminta menyebutkan kepanjangan dari BNPB, dan berulang kali salah menyebutkan.

Para ibu dan bapak itu menyebut kepanjangan BNPB sebagai Badan Nasional Panunggalangan Bencana, meski telah dibenarkan tetap saja menyebut panunggalangan.

Berbeda dengan anak-anak saat diminta menyebut singkatan BPBD, mereka mengerti. Gelak tawa pun menyelubungi rangkaian acara sosialisasi ini.

“Sosialisasi BNPB dengan kesenian rakyat mudah dipahami oleh warga yang tinggal di KRB. Dengan media kesenian ini orang mudah mencerna, termasuk anak kecil. Selain itu, bisa menumbukan ekonomi lokal, buktinya ada orang yang berjualan di saat pentas kesenian tersebut,” seloroh Sutopo, Sabtu (31/10/2015) malam.

Dia mengatakan, sosialisasi serupa juga dilakukan di beberapa tempat yang dipandang BNPB ada ancaman bencana seperti di Banyuwangi daerah ancaman Tsunami dengan Jangger.

Kemudian di Karangangar daerah rawan longsor dengan wayang kulit dan di Sukabumi dengan wayang golek.

Pihaknya, sejauh ini terus mengkampanyekan dan sosialisasi penanggulangan bencana, bukan hanya di Jawa namun juga luar Jawa seperti di NTT.

Adapun pentas wayang kulit semalam suntuk diadakan BNPB bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang dan Pemerintah Kabupaten Magelang.

Pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Greng dari Tanon, Sragen, dengan bintang tamu Gogon Srimulat.

Kepala BPBD Kabupaten Magelang Sujadi mengatakan, ada 19 desa yang masuk dalam kategori rawan bencana (KRB) III Gunung Merapi dan dua desa masuk KRB II. Sedangkan 43 desa lainnya merupakan desa penyangga yang aman.

“Kami punya program sister village untu mitigasi jika terjadi bencana. Melalui sosialiasi ini, kami berharap warga tidak panik lagi,” jelasnya.

Kepala BPBD Jateng, Sarwana Pramana mengatakan, tepat lima tahun erupsi merapi menjadi sebuah ancaman pada warga. Dia menegaskan, aktivitas Gunung Merapi, sampai sekarang masih aman.

Dia juga mengajak warga untuk berdoa bagi pengungsi yang meninggal dunia lima tahun lalu.

“Kalau ada pengumuman mengungsi, maka segeralah mengungsi,” tandasnya. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved