Ini Penjelasan Ilmiah Kabut di Yogyakarta
Penyebabnya karena udara kabur dan perambatan masa udara atau adveksi
Penulis: mrf | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Koordinator Operasional Pos Klimatologi BMKG Yogyakarta, Joko Budiono mengimbau supaya masyarakat tak khawatir dengan kabut yang menyelimuti langit di DIY.
Menurutnya, kabut itu tak akan bertahan lama dan tidak berbahaya.
"Masyarakat tidak perlu khawatir karena sifatnya nggak bertahan lama dan kondisi ini tidak berbahaya,” ucap Joko, sapaan akrabnya kepada Tribun Jogja, Minggu (25/10/2015).
Dia menambahkan, kabut tersebut tak hanya terjadi di DIY saja, melainkan di Bandung, Semarang dan Jakarta.
Penyebabnya karena udara kabur dan perambatan masa udara atau adveksi.
Penjalaran kabut ini, menurutnya berasal dari udara di Samudera Hindia yang bersifat panas dan kering bertemu di utara Pulau Jawa yang lembab.
Bahasa dalam dunia cuaca, fenomena ini bernama haze,
"Kebetulan dari analisis kondisi atmofser terdapat gangguan lapisan atmosfir di ketingian di atas 2.000 - 3.500 meter yang disebut inversi,” imbuh Joko.
Katanya, inversi adalah fenomena di mana meningkatnya suhu udara di lapisan atmosfir yang seharusnya membuat suhu udara menurun, tapi udara di bawahnya lebih dingin dan di lapisan atasnya panas.
“Jadi seolah-olah udara dimampatkan dan secara visual terlihat seperti kabut. Inilah yang membuat seolah-olah langit kabur. Jadi saat ini kita mendeteksi peristiwa di Gunungkidul bukan karena asap,” tukasnya.
Diberitakan sebelumnya, Warga Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul dikagetkan dengan kemunculan asap tebal yang muncul di kawasan pegunungan dan hutan pada Sabtu (24/10/2015).
Kabut asap yang cukup tebal awalnya diduga merupakan kiriman dari kawasan Gunung Lawu yang terbawa angin hingga wilayah Gunungkidul.
Kepala Desa Beji, Suparno yang dihubungi wartawan mengatakan asap tebal tersebut muncul di kawasan hutan dan pegunungan sejak Sabtu (24/10/2015) pagi.
Awalnya warga menduga kabut tipis tersebut merupakan awan biasa yang sering muncul di pegunungan. Namun menjelang siang, kabut semakin tebal dan pekat.
Bahkan untuk memastikan apakah kabut yang menutupi kawasan pegunungan dan hutan, beberapa warga melakukan pengamatan dari Bukit Bundelan.