Tribun Opini

Diorama Tugu, Ruang Publik Sejarah Kota Yogyakarta

Diorama menampilkan berbagai informasi mengenai sejarah berdirinya Tugu Pal Putih dari awal dibangun sampai sekarang.

Tayang:
Editor: Muhammad Fatoni
dok.pri
Hendra Kurniawan Mpd 

Hendra Kurniawan Mpd
Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

DIORAMA dan miniatur Tugu Golong Gilig di sisi tenggara kawasan Tugu Pal Putih, selesai dibangun.

Pembangunannya telah lama dilakukan, bahkan pembangunan fisik diorama usai dikerjakan pada tahun 2014 silam, tetapi kemudian dilanjutkan dengan pembangunan beberapa fasilitas pelengkap untuk menyempurnakan diorama.

Sebagai kado Hari Jadi Kota Yogyakarta ke-259 kemarin, kawasan yang menjadi landmark kota ini telah dibuka dan dapat dinikmati oleh publik.

Diorama menampilkan berbagai informasi mengenai sejarah berdirinya Tugu Pal Putih dari awal dibangun sampai sekarang.

Selain itu juga terdapat miniatur bentuk awal Tugu Pal Putih atau yang disebut Tugu Golong Gilig, vitrin informasi, videotron, pos polisi, toilet, tempat duduk, dan gudang. Lebih lengkap lagi di tengah-tengah kompleks diorama terdapat plaza sumbu filosofi yang akan membawa pengunjung pada memori masa lalu.

Sarat sejarah

Adanya ruang publik yang sarat mengusung sejarah kota tentu patut diapresiasi. Tugu merupakan monumen bersejarah yang menjadi kebanggaan masyarakat Yogyakarta.

Tugu dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I sekitar tahun 1756, sekaligus menandai berdirinya Keraton Yogyakarta pasca-Perjanjian Giyanti 1755. Dari selatan ke utara dapat ditarik sebuah garis lurus imajiner melintasi Pantai Parangkusumo, Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta, Tugu, hingga Gunung Merapi.

Pada awal didirikan, penanda kota ini diberi nama Tugu Golong Gilig karena memang bentuknya tidak seperti sekarang. Tingginya sekitar 25 meter, berbentuk tiang silinder (gilig) yang mengerucut ke atas dengan puncak menyerupai bola (golong).

Ini hendak melukiskan kebulatan tekad dan semangat persatuan antara rakyat dengan raja (manunggaling kawula gusti). Selain itu, keberadaan Tugu juga menjadi patokan arah bagi Sultan saat melakukan meditasi menghadap puncak Gunung Merapi.

Tanggal 10 Juni 1867, akibat gempa bumi hebat yang mengguncang Yogyakarta, berbagai bangunan seperti Gedung Residen (Gedung Agung), Benteng Rustenburg (setelah renovasi diberi nama Vredeburg), dan Tugu, roboh dan hancur.

Tahun 1889, Tugu yang mengalami kerusakan selesai diperbaiki. Sayangnya, terjadi perombakan total terhadap Tugu, tidak lagi golong gilig, yang mengikis makna persatuan antara rakyat dengan rajanya.

Berbagai mistisisme yang melekat, ternyata pada masa penjajahan begitu memengaruhi psikis pihak kolonial. Kekhawatiran pihak kolonial juga tampak dengan pembangunan rel kereta api yang memisahkan Jalan Malioboro (Margorojo) dengan Jalan Pangeran Mangkubumi (Margoutomo).

Rel kereta api ini seolah hendak memotong garis lurus imajiner yang menghubungkan titik-titik sumbu filosofi Keraton Yogyakarta.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Tags
Tugu Pal
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved