Seniman Tiga Negara Pamerkan Karya di Bentara Budaya

Pameran tersebut diselenggarakan di Bentara Budaya Yogyakarta, dari 3 hingga 10 Oktober 2015 nanti

Penulis: abm | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Septiandri
Seorang pengunjung sedang melihat-lihat beberapa lukisan yang dipamerkan dalam pameran seni rupa Asia Mien Image Shifting 3, yang diselenggarakan di Bentara Budaya Yogyakarta, pada 3 hingga 10 Oktober 2015 nanti. 

"Ketika kucing putih dan hitam bertemu, kucing telon adalah penengahnya yang membuat kedua kucing tersebut diam. Kan ada juga kepercayaan-kepercayaan seperti itu," kata Hardiana.

Tradisi

Ada beberapa hal yang ingin ia sampaikan kepada masyarakat terhadap karya-karyanya, yaitu sebuah tradisi.

Menurutnya, sebuah tradisi harus tetap dijaga, namun bukan berarti tidak bisa fleksibel terhadap kebudayaan yang lain. Ada sesuatu yang positif ketika menjaga tradisi dan mengakulturasikannya dengan kebudayaan lain.

"Saklek boleh, tapi harus dengan cara yang benar. Jangan terlalu saklek," tutur wanita yang lahir di Kediri 19 Mei 1981 itu.

Dion Tsai, kurator pameran tersebut mengatakan bahwa tidak peduli bagaimana dunia telah berubah selama berabad-abad.

Menurutnya, seni selalu dapat menjadi bagian dari era yang berbeda dan menciptakan sebuah bab baru, terutama ketika informasi meluap dan pengalaman visual umum kita terus-menerus ditantang.

Dion menuturkan, orang-orang telah menggunakan gambar dan ikon visual untuk memasukkan ide-ide dan perasaan sejak peradaban yang sangat kuno.

Seni modern berfungsi sebagai jembatan dan perantara di saat perubahan.

"Ini sungguh-sungguh mencerminkan kreativitas unik seniman dalam budaya saat ini dan menafsirkan hubungan antara orang-orang dalam masyarakat modern, alam dan masyarakat. Pada saat yang sama, seni menampilkan kehidupan nyata di tempat dan komunitas yang berbeda," imbuh Dion.

Ia melanjutkan, ketiga seniman tersebut tepat dan tajam dalam mencerminkan perubahan di Asia selama beberapa dekade, dengan memperlihatkan kondisi global simbol digital dan gambar melalui karya-karya mereka.

"Para seniman menggunakan beberapa media dan bahasa artistik yang luar biasa untuk menampilkan ide-ide segar dari seniman kontemporer dan pengalaman yang luar biasa," ucapnya.

Dion menambahkan, ketiga seniman itu pun berhasil menggunakan kosakata khasnya, untuk menghubungkan koneksi antara kota-kota Asia, benua, individu dan sistem sosial dalam era globalisasi. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Tags
pameran
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved