Seniman Tiga Negara Pamerkan Karya di Bentara Budaya
Pameran tersebut diselenggarakan di Bentara Budaya Yogyakarta, dari 3 hingga 10 Oktober 2015 nanti
Penulis: abm | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Asia Mien Image Shifting 3, merupakan rangkaian pameran seni rupa terakhir yang diselenggarakan di Indonesia.
Sebelumnya, pameran ini sudah diselenggarakan di dua negara yaitu Taiwan dan Malaysia. Pameran pertama diselenggarakan di Taiwan, sementara yang kedua dilaksanakan di Malaysia.
Pameran ini menampilkan puluhan karya yang dibuat oleh tiga seniman, yaitu Cynthia Lin dari Taiwan, Hardiana dari Indonesia dan Ng Kim Heoh dari Malaysia.
Di Indonesia sendiri, pameran tersebut diselenggarakan di Bentara Budaya Yogyakarta, dari 3 hingga 10 Oktober 2015 nanti.
Pameran yang menampilkan sebanyak 28 karya dari tiga seniman tersebut, tentunya bisa menjadi sebuah referensi bagi para perupa, maupun masyarakat umum lainnya.
Hardiana membuat sembilan lukisan dari hasil pengamatannya terhadap sebuah kebudayaan dan kepercayaan yang berkembang di masyarakat.
Dari latar belakangnya yang fokus mempelajari cultural study, Hardiana gunakan untuk mendalami sebuah kebudayaan dan diaplikasikan pada sebuah karya lukis.
Seperti yang terlihat dari beberapa karyanya yang menunjukan sebuah kebudayaan dan kepercayaan yang berkembang di masyarakat.
"Saya memiliki basic mengangkat sesuatu yang klasik yang dikemas secara modern. Seperti sebuah karya yang terinspirasi dari sesuatu yang klasik, namun diberi warna-warna yang modern," ungkap Hardiana saat pembukaan pameran tersebut, pada Sabtu (3/10/2015) malam.
Salah satunya seperti lukisan Hardiana berjudul "Little Girl". Lukisan itu terinspirasi dari penglihatan matanya melihat seorang gadis kecil di Taiwan yang sangat lucu.
Menurutnya, hal itu merupakan sebuah karya yang klasik, namun ia buat dengan balutan warna yang modern.
"Ada pula tiga karya saya yang lain berjudul Putrakanjantaka, Condromowo, dan Kembang Telon," ujarnya.
Ketiga judul tulisan tersebut dijejerkan berdampingan satu sama lainnya, yang memperlihatkan tiga ekor kucing dengan warna yang berbeda, yaitu hitam, putih dan telon.
Menurutnya, ada sebuah kepercayaan dari masyarakat Indonesia maupun negara lain yang menganggap warna kucing menunjukan sebuah simbol tertentu.
Dijelaskan, seperti kucing putih sebagai simbol pembawa rezeki namun membawa sesuatu yang lain. Begitu pula dengan kucing hitam, yang menurut ia ketahui sebagai pemanggil rezeki namun membawa penyakit.
"Ketika kucing putih dan hitam bertemu, kucing telon adalah penengahnya yang membuat kedua kucing tersebut diam. Kan ada juga kepercayaan-kepercayaan seperti itu," kata Hardiana.
Tradisi
Ada beberapa hal yang ingin ia sampaikan kepada masyarakat terhadap karya-karyanya, yaitu sebuah tradisi.
Menurutnya, sebuah tradisi harus tetap dijaga, namun bukan berarti tidak bisa fleksibel terhadap kebudayaan yang lain. Ada sesuatu yang positif ketika menjaga tradisi dan mengakulturasikannya dengan kebudayaan lain.
"Saklek boleh, tapi harus dengan cara yang benar. Jangan terlalu saklek," tutur wanita yang lahir di Kediri 19 Mei 1981 itu.
Dion Tsai, kurator pameran tersebut mengatakan bahwa tidak peduli bagaimana dunia telah berubah selama berabad-abad.
Menurutnya, seni selalu dapat menjadi bagian dari era yang berbeda dan menciptakan sebuah bab baru, terutama ketika informasi meluap dan pengalaman visual umum kita terus-menerus ditantang.
Dion menuturkan, orang-orang telah menggunakan gambar dan ikon visual untuk memasukkan ide-ide dan perasaan sejak peradaban yang sangat kuno.
Seni modern berfungsi sebagai jembatan dan perantara di saat perubahan.
"Ini sungguh-sungguh mencerminkan kreativitas unik seniman dalam budaya saat ini dan menafsirkan hubungan antara orang-orang dalam masyarakat modern, alam dan masyarakat. Pada saat yang sama, seni menampilkan kehidupan nyata di tempat dan komunitas yang berbeda," imbuh Dion.
Ia melanjutkan, ketiga seniman tersebut tepat dan tajam dalam mencerminkan perubahan di Asia selama beberapa dekade, dengan memperlihatkan kondisi global simbol digital dan gambar melalui karya-karya mereka.
"Para seniman menggunakan beberapa media dan bahasa artistik yang luar biasa untuk menampilkan ide-ide segar dari seniman kontemporer dan pengalaman yang luar biasa," ucapnya.
Dion menambahkan, ketiga seniman itu pun berhasil menggunakan kosakata khasnya, untuk menghubungkan koneksi antara kota-kota Asia, benua, individu dan sistem sosial dalam era globalisasi. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pameran_0610_20151006_071728.jpg)