Ini Proses Panjang Tes Lokomotif Hingga Boleh Tarik Gerbong
Setelah berbagai pengecekan perangkat beres, lokomotif kemudian untuk pertama kalinya dinyalakan di luar los Balai Yasa
Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM - Kejadian satu unit lokomotif baru yang menabrak tembok pengaman, Sabtu (29/8/2015) siang mengagetkan warga sekitar dan pengguna jalan.
Satu unit lokomotif baru seri CC206 milik PT KAI diduga mengalami masalah sehingga akhirnya menabrak.
Hal ini membuka satu hal penting: ada proses panjang dan penuh risiko dalam pengujian lokomotif baru.
Beberapa tahun terakhir, PT Kereta Api Indonesia (KAI) memang rajin menambah dan meremajakan armada lokomotifnya.
Hal ini tak lepas dari semakin meningkatnya permintaan pada jasa angkutan perkeretaapian baik untuk penumpang maupun barang.
Dimulai pada 2013, PT KAI yang waktu itu masih dipimpin Ignasius Jonan mendatangkan lokomotif baru. Tidak main-main, Jonan langsung mendatangkan ratusan lokomotif sekaligus.
Pada waktu itu ada dua tipe lokomotif yang didatangkan yakni tipe CC205 buatan EMD Kanada yang dipakai untuk angkutan barang di Sumatera.
Tipe berikutnya adalah tipe CC206 buatan General Electric Amerika Serikat.
Tipe yang terakhir merupakan tipe yang memiliki proses panjang untuk mendatangkan hingga mengoperasionalkannya.
Betapa tidak, ketika CC205 diimpor secara utuh dan langsung tiba di Sumatera, CC206 menempuh jalan berbeda.
CC206 yang memiliki dua kabin masinis ini tidak bisa langsung dipakai setelah tiba.
50 Unit
Pada 2013, ada 100 unit CC206 yang didatangkan PT KAI. Sedangkan pada 2015 ini akan ada sekitar 50 unit.
Kali ini, 50 unit tersebut tidak semuanya akan dipakai di Jawa; sebagian akan dikirim pula ke Sumatera.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, CC206 menempuh proses panjang dan penuh risiko untuk bisa dipakai beroperasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/kereta-api_1009_20150910_175740.jpg)