Mandat Ir. Soekarno: Jaga Ini!

Sosok yang paling berjasa membebaskan Indonesia dari penjajah, Ir. Soekarno, menaruh perhatian khusus terhadap eksistensi Tenun Lurik.

Editor: oda
tribunjogja/kurniatulhidayah
seorang pengrajin tenun lurik di Bantul sedang menata benang di ATBM 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL – Sosok yang paling berjasa membebaskan Indonesia dari penjajah, Ir. Soekarno, menaruh perhatian khusus terhadap eksistensi Tenun Lurik, khususnya yang dibuat secara tradisional.

Bukti kepedulian Presiden pertama RI tersebut adalah dengan memberikan mandat kepada pabrik tenun lurik yang berada di Krapyak Wetan untuk tetap mempertahankan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

“Dulu ada banyak pabrik tenun lurik di daerah ini (Krapyak). Namun sekarang tinggal ini satu-satunya yang tersisa dan masih mempertahankan ATBM,” jelas Jayadi, pegawai sekaligus saksi hidup berdirinya perusahaan tenun lurik sejak 1962 kepada Tribun Jogja, Sabtu (29/8/2015).

Pria berusia 77 tahun ini mengingat betul jika orang nomer satu di Indonesia itu datang ke tempat produksi tenun lurik ini pada 1965. Sekitar tiga tahun sejak berdirinya tempat yang awalnya ditangani oleh 5 orang pegawai ini.

“Beliau memberikan bantuan berupa benang sebagai dukungannya terhadap sektor tekstil yang masih menggunakan alat tradisional. Pak Karno juga berpesan untuk tetap menjaga ATBM ini,” jelasnya.

Pesan itu masih sangat terngiang di telinga Jayadi. Seolah baru kemarin dia mendapatkan petuah dan menjabat tangan plokamator tersebut.

Tak terasa jika mandat itu telah disampaikan puluhan tahun silam. Namun Jayadi masih bisa mendengar irama ATBM yang digunakan untuk menenun hingga detik ini.

Seorang yang telah menjadi saksi hidup usaha tenun lurik ini, tak mengandalkan penghidupannya dari upahnya bekerja. Ia lebih suka dianggap sebagai orang yang tetap teguh meneruskan warisan leluhurnya untuk menjaga keberadaan tenun lurik agar tidak terkikis zaman.

Tak hanya Jayadi yang memiliki usia cukup tua di usaha tenun lurik bernama Kurnia Lurik ini. Penenun didominasi kaum tua yang berusia di atas 40 tahun.

Hal ini cukup memprihatinkan. Mereka adalah generasi terakhir pembuat tenun lurik jika kondisi ini dibiarkan berkepanjangan.

“Saya sadar jika ini adalah kendala kami. Kami harus segera mengajak generasi muda untuk bergabung dengan kami agar ada regenarasi penenun tenun lurik,” papar Jussy Rizal, pemilik Kurnia Lurik.

Usaha yang dilakukan Jussy hingga saat ini adalah melakukan sosialisasi ke pelosok desa. Tempat di mana kaum mudanya masih mau dan tertarik dengan kain tenun, khususnya yang menggunakan ATBM.

“Kami memberikan ATBM yang ditempatkan di rumahnya. Mereka juga jauh dari tempat kami. Ada yang berasal dari Moyudan (Sleman), Selarong (Bantul), dan juga Cawas (Klaten),” tutupnya.

Sumber: Tribun Jogja
Tags
Tenun
lurik
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved