Bantul Waspada Serangan Hama Tikus
Jelang musim panen padi di Bantul, hama tikus menjadi hal yang diwaspadai baik oleh petani maupun pemerintah
Penulis: apr | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Anas Apriyadi
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Jelang musim panen padi di Bantul, hama tikus menjadi hal yang diwaspadai baik oleh petani maupun pemerintah setempat. Rehabilitasi keseimbangan ekosistem antara predator dan hama menjadi cara yang diterapkan pemerintah.
Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) Bantul, Partogi Dame Pakpahan menjelaskan, daerah perbatasan khususnya Sedayu merupakan wilayah yang biasanya paling banyak mendapatkan serangan hama tikus dengan luasnya
lahan pertanian padi di tempat tersebut.
Partogi menerangkan perburuan binatang predator hama tikus misalnya burung hantu dan ular, mengakibatkan populasi hama tikus di persawahan di Bantul makin banyak dan mengancam hasil pertanian.
Terjadinya hama tikus karena pola tanam tidak benar, yang kedua predator ini habis, tidak seimbang yang dikonsumsi predator dengan yang ada," jelasnya pada Selasa (28/7/2015).
Untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem, dengan menjaga agar predator hama tikus tidak habis diburu, Dispertahut) Bantul bekerja sama dengan Babinsa TNI untuk melarang perburuan satwa liar khususnya ular.
"Babinsa sangat efektif mereka berkeliling di wilayah-wilayah yang rentan perburuan ular untuk mengantisipasi perburuan, kalau misalnya mantri tani kita atau PPL kita diminta untuk melarang perburuan liar itu kan kurang berani, tapi kalau tentara kan lebih tepat," terangnya.
Sementara itu untuk mengatasi berkurangnya predator burung hantu, Rubuha (rumah burung hantu) disiapkan di sejumlah areal persawahan yang rawan serangan hama tikus. "Kita mencoba menarik burung hantu di situ," terangnya.
Selain itu cara tradisional dengan gropyokan digunakan untuk memburu tikus, di area yang banyak terdapat tikus, petani menurutnya juga memasang jebakan tikus dengan ukuran besar.
“Kita memasang lima sampai enam perangkap tikus dengan plastik-plastik yang dipasang di sawah, hasilnya sudah ribuan tikus yang masuk,” tuturnya.
Lahan di Sedayu yang diperkirakan seluas 14,5 hektar disebut sudah bisa dipanen pada pertengahan Agustus mendatang. Untuk tahap awal diprediksi produksi padi mampu mencapai 6 hingga 7 ton per hektare. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/petani-panen-padi-di-sawah.jpg)