Bentor Minta Solusi Legalitas

Paguyuban Becak dan Becak Motor (PB) Yogyakarta mengklaim bahwa tidak pernah ada konflik antara becak kayuh dengan becak motor (bentor.

Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: oda

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rento Ari Nugroho

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Paguyuban Becak dan Becak Motor (PB) Yogyakarta mengklaim bahwa tidak pernah ada konflik antara becak kayuh dengan becak motor (bentor). Selain harmonis, pengaturan jadwal pun telah dilakukan.

Hal tersebut mengemuka dalam pertemuan antara perwakilan Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PB) dengan redaksi Tribun Jogja, Senin (22/6/2015).

Dari PB hadir Ketua Umum PB, Parmin; Ketua Wilayah Malioboro, Slamet Kenthut; pendamping dari Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta, Miftah Mujahidin dan pengurus PB wilayah selatan Stasiun Tugu, Agus Sucipto.

Selain mengklarifikasi beberapa poin seputar pemberitaan, mereka juga berharap ada solusi legalitas bentor.

"Kami berterimakasih Tribun Jogja telah bersedia mengangkat masalah ini. Ini merupakan bagian dalam upaya mencari solusi legalitas Bentor di Yogyakarta," jelas Miftah.

Namun demikian, dia ingin melakukan klarifikasi bahwa di lapangan sesungguhnya tidak ada konflik antara becak kayuh dan becak motor.

"Yang namanya rebutan penumpang itu tidak ada karena pembagiaannya telah diatur oleh paguyuban," tegasnya.

Menurut Miftah, bentor merupakan satu alat untuk memenuhi kebutuhan transportasi masyarakat misalnya wisatawan. Untuk itu pihaknya berharap pemerintah bisa menetapkan regulasi mengenai bentor.

"Kalau pemerintah menetapkan standar mengenai bentor yang layak beroperasi di lapangan, kami siap. Bentor menjadi inovasi untuk pekerjaan mengangkut penumpang jarak jauh yang tidak bisa dilayani oleh becak kayuh," katanya.

Parmin menambahkan, Bentor pada awalnya tentu saja becak kayuh. Setelah diubah, dalam proses operasionalnya tetap mangkal bersama becak kayuh di pangkalan.

Karena itu, pihaknya menyatakan semuanya berjalan harmonis dan tidak ada konflik maupun perselisihan.

"Kami sudah membuat kesepakatan (dengan becak kayuh, red) mengenai pembagian penumpang. Ada antrean yang harus ditaati di pangkalan," katanya.

Mengenai konflik tersebut, dia mengaku sudah melakukan survei, bahkan di paguyuban tiap bulan ada pertemuan arisan, semuanya rukun.

Bahkan dia mengaku, sering meminta anggota untuk tertib lalu lintas misalnya pakai helm, dan tidak melanggar rambu-rambu lalu lintas

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved