Nostalgia Era Dieselisasi Perkeretaapian Indonesia

Lokomotif diesel elektrik seri BB200 direstorasi untuk kemudian dibawa ke Ambarawa untuk melengkapi koleksi museum perkeretaapian di sana

Tayang:
Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.com | RENTO ARI NUGRAHA
Kepala Balai yasa Yogyakarta, Eko Purwanto berdiri di samping lokomotif diesel elektrik seri BB200 no 8 di Balai Yasa Yogyakarta, Kamis (28/5). Setelah beberapa waktu lalu sukses merestorasi lokomotif Bima Kunting, PT KAI kembali melakukan restorasi pada lokomotif yang menjadi tonggak sejarah perkeretaapian di Indonesia. Kali ini lokomotif diesel elektrik seri BB200 direstorasi untuk kemudian dibawa ke Ambarawa untuk melengkapi koleksi museum perkeretaapian di sana. 

Memang lokomotif diesel pertama adalah seri CC200 yang datang pada sekitar 1953. Namun lokomotif ini terlalu besar dan berat sehingga tidak bisa dipakai di jalur cabang yang hanya sanggup menopang lokomotif yang lebih ringan.

Untuk itu didatangkanlah BB200 yang lebih ringan namun bertenaga. Karena itulah, BB200 kemudian menjadi andalan lokomotif diesel untuk lintas percabangan.

"Karena itu, lok (lokomotif) BB200 menjadi benda cagar budaya yang penting. Di Pengok (Balai Yasa Yogyakarta, red) sendiri ada beberapa unit yang afkir. Untuk itu kami berupaya merestorasi unit yang kondisinya paling baik untuk dibawa ke Tuntang seiring rencana untuk pengembangan Tuntang sebagai museum bertema lokomotif diesel," jelasnya ketika dihubungi Tribun Jogja, Kamis (28/5).

Dalam prosesnya, restorasi lokomotif yang kini dicat warna kejayaan DKA yaitu krem-hijau-merah ini memerlukan waktu sekitar tiga bulan.

Lokomotif ini menjalani pengerjaan pada Maret-April 2015. Meski sempat beroperasi pada era PJKA hingga Perumka yang memakai cat merah-biru, namun diputuskan untuk mengembalikan ke warna aslinya.

Sementara itu, Kepala Balai Yasa Yogyakarta, Eko Purwanto ketika ditemui media mengatakan, saat ini proses restorasi telah dilakukan hingga 95 persen.

Proses restorasi tidak mengalami kesulitan berarti karena pihak Balai Yasa Yogyakarta memiliki data seluruh lokomotif yang beroperasi di Jawa.

Sebenarnya, bisa saja lokomotif ini dihidupkan kembali, namun hal itu tentunya tidak efisien karena harus mendatangkan onderdil yang sulit diperoleh.

"Kalaupun dihidupkan, tentu tidak efisien karena daya tariknya kecil, tidak sebesar lokomotif sekarang. Lagipula, mesinnya bahkan sudah tidak diproduksi. Karena itu diputuskan untuk mengembalikan saja kondisinya seperti semula. Tentunya akan menarik ketika menjadi monumen," katanya.

Wawan menyambung, karena berukuran besar dan cukup berat, ada pertimbangan tersendiri ketika pada akhirnya nanti dibawa ke Ambarawa atau Tuntang. Untuk itu ada dua alternatif yang bisa dilakukan.

"Yang pertama adalah ditarik melalui rel. Namun risikonya, karena menarik lokomotif mati tentu kecepatan dibatasi. Hal ini bisa mengganggu perjalanan kereta yang lain. Untuk itu, bisa pula memakai trailer yang berjalan perlahan di jalan raya," katanya.

Mengenai waktu pengiriman, Wawan menyatakan pihaknya sebenarnya sudah siap memindahkan lokomotif ini.

Namun, karena proses revitalisasi jalur rel Kedungjati-Tuntang, maka pemindahan untuk sementara ditunda.

Sebab, ada rencana untuk mengoperasikan kembali stasiun Tuntang.

"Karena itu, bisa pula BB200 ini nantinya tidak jadi di Tuntang namun di Ambarawa. Namun untuk ke depannya, kami masih menunggu perkembangan," imbuh dia.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved