Nostalgia Era Dieselisasi Perkeretaapian Indonesia

Lokomotif diesel elektrik seri BB200 direstorasi untuk kemudian dibawa ke Ambarawa untuk melengkapi koleksi museum perkeretaapian di sana

Tayang:
Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.com | RENTO ARI NUGRAHA
Kepala Balai yasa Yogyakarta, Eko Purwanto berdiri di samping lokomotif diesel elektrik seri BB200 no 8 di Balai Yasa Yogyakarta, Kamis (28/5). Setelah beberapa waktu lalu sukses merestorasi lokomotif Bima Kunting, PT KAI kembali melakukan restorasi pada lokomotif yang menjadi tonggak sejarah perkeretaapian di Indonesia. Kali ini lokomotif diesel elektrik seri BB200 direstorasi untuk kemudian dibawa ke Ambarawa untuk melengkapi koleksi museum perkeretaapian di sana. 

Jadi sangatlah unik, karena tampak depannya seperti lokomotif uap, kabin kemudi ada di belakang. Karena jika kita lihat adalah benar dalam kabin BB200 ini cuma ada 1 panel kemudi yang berada di sisi kanan kabin menghadap ke depan long-hood.

Tentunya masinis lebih ergonomis jika memandang ke long-hood untuk mengemudikan BB200 ini.

Persoalan ini tidak bisa disamakan dengan lokomotif produksi General Electric (GE), yang mempunyai panel kemudi ganda tiap kabin. Lokomotif BB200 memiliki ciri khas terdapat plat nomor lokomotif yang diberada di sebelah kanan dan kiri dari lampu lokomotif.

Lokomotif BB200 ini mempunyai tipe mesin EMD (8) 567 C, sedangkan grup mesin manufaktur GM adalah model mesin G8 atau detailnya G8-567 CR, G8 karena mempunyai 8 silinder dengan konfigurasi V. BB200 memiliki 2 bogie dengan susunan roda gandarnya A1A-A1A, roda tengah tidak memiliki motor traksi (idle), tetapi berfungsi sebagai penahan beban terberat body loko tersebut.

Lokomotif BB200 ini sama dengan tipe G8 yang berada di luar negeri, seperti: Australia, Kanada, Brazil, Kuba, Mesir, Iran, Korea Selatan, Liberia dan Selandia Baru.

Di Amerika Serikat sendiri malah tidak ada maskapai yang memakai lokomotif tipe G8 ini karena kapasitas tenaga kudanya dianggap kurang besar.

Sebagian besar lokomotif GM-EMD di Amerika Serikat sendiri lebih dipilih yang mempunyai daya 2000 HP (horse power) ke atas, sedangkan BB200 memiliki daya 875 HP dapat melaju hingga kecepatan maksimum 110 km/jam.

Di zaman keemasannya, BB200 aktif untuk menarik kereta ekspress seperti Bima, Mutiara Utara, Pandanaran, Senja Utama, Purbaya dan untuk menarik kereta barang.

Pada tahun 1984, dilakukan repowering pada lokomotif BB200.

Tujuan repowering adalah untuk mengembalikan kinerja lokomotif seperti kondisi awal/baru dan memperpanjang masa pakai lokomotif.

Karenanya GM sudah tidak memproduksi suku cadang BB200 ini dan seiring dengan pertambahan usianya, maka lokomotif ini jumlahnya semakin berkurang.

Langkanya suku cadang ini membuat lokomotif BB200 banyak yang afkir; beberapa yang diantaranya kemudian teronggok di kebun Balai Yasa Yogyakarta.

Nasib baik mulai menghampiri ketika Unit Pelestarian PT KAI mulai melakukan revitalisasi di Ambarawa dan Tuntang.

Upaya untuk melengkapi sejarah perjalanan perkeretaapian Indonesia pun dilakukan dengan mendatangkan koleksi yang memiliki nilai sejarah.

Menurut staf Program Non Bangunan dari Unit Pusat Pelestarian, Perawatan dan Desain Arsitektur PT KAI, Wawan Hermawan, lokomotif BB200 termasuk bagian sejarah awal era lokomotif diesel di Indonesia.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved