Kisah Tiga Sahabat Pengaman Kuda Lumping Jalanan Demi Rezeki Halal

Adalah Madun, Bambang dan Yanto. Tiga sahabat karib asal Temanggung ini memang sengaja merantau ke Yogya untuk mengamen

Tayang:
Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Rendika Ferri Kurniawan
Madun, Bambang dan Yanto. Tiga sahabat karib asal Temanggung ini memang sengaja merantau ke Yogya untuk mengamen. 

Pagi selepas Subuh, mereka segera bersiap, berdandan, memakai kostum, menyiapkan pemutar musik mereka, pecut dan tak lupa kuda lumping ditungganginya.

Berangkat dari rumah singgah milik temannya, mengitari sudut kota Yogya dengan bersemangat.

Kostum layaknya penari kuda lumping sungguhan, lengkap dengan cambuk, pedang-pedangan dan kuda lumping. Hiasan dada seperti badong, rumbai-rumbai rampek dan deker tangan yang disebut begel.

Semua mereka buat sendiri. Termasuk pemutar musik sederhana, yang mereka rancang menggunakan mp3 handphone disambungkan ke speaker dengan tenaga aki.

Lagu-lagu khas Jawa mereka putarkan sebagai lagu tarian mereka.

"Kita kreatif mas, semua buat sendiri mas, mulai kostum, ornamen-ornamen, pemutar musik pun buat sendiri. Ini speaker disambungin mp3 handphone pake batere dari aki hehe," tutur Bambang sambil senyum.

Rp50 Ribu

Seharian mengamen, dari pukul 07.00 pagi sampai 19.00 malam, Ketiga sahabat karib ini mengaku hanya mendapat uang Rp50.000 yang mereka bagi bertiga. Maman, Yanto dan Bambang, tak lama-lama singgah di suatu kota.

10 hari sudah, uang hasil mengamen terkumpul sebesar Rp500.000, kemudian mereka bagi bertiga.

Mereka sudah merasa puas, dapat menambah penghasilan mereka disamping hasil uang dari pekerjaan tukang batu. Walaupun sedikit, mereka selalu bersyukur menerima semua nikmat yang telah didapatkannya.

"Alhamdulillah mas, saya dapat segitu ya bersyukur. Bisa buat beli susu anak saya yang bayi, sama biaya sekolah yang TK sama SD. Yang penting halal, pasti berkah," ungkap Madun senang.

Madun, mempunyai empat anak yang masih kecil-kecil. Anak nomor satunya masih duduk di kelas lima SD. Sedangkan adik-adiknya masih bersekolah di TK kecil dan TK besar. Anak terakhirnya berusia enam bulan.

Dengan pekerjaan Madun sebagai tukang batu, tentunya tidak akan cukup memenuhi kebutuhan semua anggota keluarganya. Madun akhirnya memutuskan mengamen bersama kedua kawannya. Istri dan anaknya, dia tinggal di rumah.

"Anak saya banyak. Ada empat. Maklum saya produktif hehe. Banyak anak kan banyak rezeki. Lumayan hasil ngamen ini bisa buat jajan mereka," tutur Madun.

Madun mengaku tak malu mengamen di jalanan. Banyak pengalaman Madun ketika mengamen di jalan. Madun dan kedua sahabatnya, mengaku sering dikejar-kejar Satpol PP ketika sedang mengamen.

Ketika di jalanan, juga pernah ketemu dengan saudara ataupun kenalannya. Madun, Yanto dan Bambang, tak merasa malu dan tetap mengamen tari tradisional.

"Ya pernah ketemu saudara atau temen, tapi ya tetep nari saja. Ga perlu malu. Kita yang penting kerjanya halal, bukan mengambil hak orang lain alias nyuri. Koruptor yang mestinya malu, nyuri duit rakyat," tutur Yanto. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Tags
pengamen
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved