Kisah Tiga Sahabat Pengaman Kuda Lumping Jalanan Demi Rezeki Halal

Adalah Madun, Bambang dan Yanto. Tiga sahabat karib asal Temanggung ini memang sengaja merantau ke Yogya untuk mengamen

Tayang:
Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Rendika Ferri Kurniawan
Madun, Bambang dan Yanto. Tiga sahabat karib asal Temanggung ini memang sengaja merantau ke Yogya untuk mengamen. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Akhir-akhir ini ketika kita sedang berkendara di jalanan Kota Yogya pasti pernah melihat orang-orang dengan rambut palsu warna cokelat, kumis hitam melintang di bawah hidung, wajah berwarna-warni bekas polesan bedak kosmetik, kacamata hitam dan kostum tradisonal lengkap bak penari.

Mereka menari-nari di tengah jalan sambil memecut menggunakan cambuknya di lampu merah. Jangan salah sangka, meski dandanannya nyeleneh, mereka bukan orang aneh atau orang tak waras.

Mereka adalah para pengamen tari tradisional.

Adalah Madun, Bambang dan Yanto. Tiga sahabat karib asal Temanggung ini memang sengaja merantau ke Yogya untuk mengamen.

Ngamen bukan sembarang ngamen. Kalau kita biasa melihat pengamen membawa gitar, lain halnya dengan ketiga pengamen ini.

Mereka mempertontonkan tarian tradisional antar kampung-kampung, jalanan, bahkan lampu merah di jalanan Yogya.

Sambil berlenggak lenggok menunggang kuda lumping, ketiga sahabat ini sesekali memecut aspal dengan cambuknya, dan beradu pedang.

"Kami menari di lampu merah, orang-orang cuma ngeliatin aneh, kami tetep pede aja nari. Kadang di lampu merah, seringnya di kampung-kampung di sekitar kota," tutur Madun sambil tertawa lepas.

Tanpa alas kaki, mereka berjalan untuk mengamen dari satu perempatan ke perempatan yang lain. Dari kampung satu, ke kampung yang lain.

Tujuan mereka semata-mata adalah mencari penghasilan tambahan ketika mereka tak punya pekerjaan di rumah.

Madun, contohnya. Madun adalah tukang kayu juga tukang batu yang sehari-hari menggantungkan hidupnya dari pekerjaan bangunan. Pekerjaan bangunan sifatnya memang tak menentu.

Kadang ada pekerjaan, kadang nihil sama sekali. Bambang dan Yanto pun merasakan hal yang sama. Sehingga penghasilan mereka tidak tetap.

Di samping bekerja sebagai tukang, Madun, Bambang dan Yanto di sela-sela kesibukannya, ternyata juga sering pentas menari sebagai penari kuda lumping di salah satu paguyuban seni di Temanggung, yaitu kelompok seni tari massal, Turonggo Seto.

Berkat kepiawaian mereka menari, tercetuslah ide untuk menggunakan bakat mereka untuk mengamen tari tradisional. Akhirnya, ketiga sahabat ini bertolak dari satu kota ke kota lainnya untuk mengamen di jalanan sampai sekarang ini.

Sehari-hari mereka berjalan dari terminal Jombor, Sleman, Yogya, bertolak ke kota Yogya untuk mengamen. Jalanan mulai dari Malioboro sampai kraton pun mereka datangi dengan berjalan kaki.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Tags
pengamen
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved