Hati-hati Mengenali Serta Membedakan Gejala Flu dan Selesma
Penyakit itu kerap dikaitkan dengan masa pergantian musim yang bisa menurunkan daya tahan tubuh.
TRIBUNJOGJA.COM - Sakit influenza atau flu amat populer bagi masyarakat di Indonesia. Penyakit itu kerap dikaitkan dengan masa pergantian musim yang bisa menurunkan daya tahan tubuh.
Namun, ternyata mereka yang mengalami gejala, seperti sakit kepala, batuk kering, pilek, dan demam, tak bisa langsung dinyatakan menderita flu jika tanpa melalui uji laboratorium. Sebagian besar dari mereka yang mengalami sejumlah gejala itu sebenarnya terkena selesma.
Adityo Susilo, dokter spesialis penyakit dalam pada Divisi Penyakit Tropik Infeksi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo, menjelaskan, gejala flu belum tentu akibat virus influenza.
"Yang kerap terjadi di masyarakat itu salah kaprah, tertukar antara istilah flu dan selesma atau common cold," ujarnya.
Selesma adalah sekumpulan penyakit dengan gejala mirip infeksi saluran pernapasan atas, ditandai dengan batuk, pilek, demam ringan, dan sakit kepala. Penyebabnya bisa beragam virus, antara lain yang termasuk Respiratory syncytial virus (RSV) dan koronavirus. Belum ada yang memastikan rincian virus penyebab selesma karena penderita umumnya sembuh dengan istirahat cukup untuk memulihkan daya tahan tubuh.
Sementara istilah flu pada manusia, yang secara internasional disebut seasonal influenza (flu musiman), secara spesifik merujuk pada infeksi saluran pernapasan atas oleh virus influenza. Gejalanya amat mirip dengan selesma.
"Jadi, infeksi virus flu bisa jadi salah satu bagian dari selesma. Namun, untuk menyatakan penyakit itu adalah flu, jenis virusnya harus virus influenza," kata Adityo.
Untuk memastikan jenis virus, pasien dengan gejala flu harus menjalani tes, antara lain uji diagnosis cepat (rapid diagnostic test/RDT) memakai spesimen dari tenggorokan dan hidung. Bisa juga dengan reaksi rantai polimer (polymerase chain reaction/PCR) untuk mengetahui adanya asam ribonukleat (RNA) virus flu pada spesimen pasien.
Namun, RDT dan PCR untuk flu masih terbatas di Indonesia mengingat penyakit itu belum menjadi masalah tahunan. Kondisi tersebut membuat obat anti virus flu di Indonesia terbatas karena amat jarang dibutuhkan.
Risiko Komplikasi
Di luar masalah penggunaan istilah flu yang kerap tertukar dengan selesma, hal terpenting adalah tak menyepelekan penyakit seberapa pun ringannya.
Selain ibu hamil, menurut Amin, mereka yang berisiko tinggi ialah anak-anak berusia di bawah dua tahun, orang berusia di atas 65 tahun, dan mereka yang menderita penyakit seperti jantung, paru-paru, ginjal, hati, darah, ataupun gangguan metabolisme kronis seperti diabetes dan yang mengalami penurunan daya tahan tubuh.
Adityo menambahkan, komplikasi terberat terjadi jika infeksi mencapai paru-paru. Hal-hal yang bisa terjadi antara lain perdarahan paru-paru, gagal napas akut (acute respiratory distress syndrome/ARDS), hingga kematian.
Jika sudah parah, pasien mendapat perawatan penunjang. Selain ditempatkan di unit perawatan intensif (ICU), pasien mendapat obat penunjang di luar anti virus flu, termasuk antibiotik guna mencegah infeksi sekunder oleh bakteri.
Virus flu amat mudah menular, termasuk dari cipratan cairan penderita, misalnya saat mengobrol. Umumnya, orang dewasa yang terinfeksi bisa menulari orang lain sejak satu hari sebelum gejala dialami hingga 5-7 hari setelah sakit. Gejalanya mulai terjadi 1-4 hari setelah virus masuk tubuh.
Untuk mencegah penularan, ada vaksin tiga jenis virus utama flu yang formulanya berganti tiap tahun untuk menghindari risiko virus kebal pada vaksin. Cara lain yang utama adalah menjaga daya tahan tubuh lewat perilaku hidup sehat, termasuk mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan cukup istirahat. (*)