GKJ Patalan Gelar Kenduri Bersama Umat Beragama Rayakan HUT ke-90
Puluhan ibu-ibu dan bapak-bapak nampak anggun dan gagah mengenakan busana adat Jawa.
Penulis: say | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Siti Ariyanti
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Alunan musik Jawa terdengar syahdu di halaman kantor Balai Desa Patalan, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, Sabtu (28/3/2015) malam. Puluhan ibu-ibu dan bapak-bapak nampak anggun dan gagah mengenakan busana adat Jawa.
Mereka kemudian melantunkan tembang Jawa dengan merdu, hingga menjadikan malam yang diguyur hujan deras itu menjadi lebih hidup. Selain tembang macapat, malam itu juga digelar pementasan wayang dengan lakon “Wahyu Katentreman” yang ditampilkan dengan apik oleh dalang Ki Suwondo.
Lakon Wahyu Katentreman bercerita tentang seorang raja yang ikut mengabdi bersama punokawan melayani masyarakat. Anak raja tersebut berusaha untuk mendapatkan wahyu dengan berjuang dan melayani rakyatnya untuk mewujudkan kedamaian.
Itulah yang terlihat dalam puncak perayaan 90 tahun berdirinya Gereja Kristen Jawa (GKJ) Patalan. Pada kesempatan itu, Bupati Bantul, Sri Suryawidati juga datang membaur bersama ratusan jemaat GKJ Patalan.
Sebelum pentas wayang digelar, Ida, sapaan akrab Bupati menyerahkan tokoh wayang Abimanyu yang menjadi tokoh utama pementasan wayang pada sang dalang. Ida juga mendapat ucapan selamat ulang tahun dari para jemaat. Untuk diketahui, istri mantan Bupati Bantul, Idham Samawi itu genap berusia 64 tahun pada 26 Maret lalu.
Dalam sambutannya, Ida berharap kerukunan antar umat beragama bisa terus dipelihara dan dipupuk. Dia juga ikut gembira dengan upaya para jemaat GKJ Patalan yang terus berusaha untuk melestarikan kebudayaan Jawa dalam kehidupan sehari-hari.
“Dengan perayaan syukur ini, saya berharap agar kerukunan terus dipelihara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Termasuk menjaga tradisi budaya,” tutur Bupati, Sabtu (28/3/2015).
Ketua Panitia HUT GKJ 90 tahun Patalan, Petrus Sutotok menjelaskan, perayaan ulang tahun gereja kali ini dikemas secara unik dan tetap melestarikan tradisi budaya Jawa. Selain ibadah syukur, pada beberapa rangkaian kegiatan juga dilibatkan umat beragama lain untuk ikut mengisi rangkaian HUT gereja tersebut.
Keterlibatan umat beragama lain ini dilakukan para jemaat dengan menggelar kenduri bersama masyarakat sekitar gereja. Kegiatan makan bersama dan kenduri ini dilaksanakan pada tanggal 14 Maret lalu.
Menurut Totok, kegiatan ini dapat memupuk rasa kerukunan dan persaudaraan dengan umat beragama lain.
“Kami mengambil tema mewujud nyatakan kasih Allah pada sesama. Dalam hal ini, kami sebagai jemaat gereja berusaha untuk tidak eksklusif, kami terbuka untuk saling berbagi dan mengucap syukur dengan umat agama lain,” papar Totok. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/gkj-bantul_2903.jpg)