Sawah Petani Wukirsari Mulai Mengiring Kesulitan Air
Setidaknya ada 50 hektare sawah tadah hujan di desanya yang saat ini tak terjangkau air
Penulis: say | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Siti Ariyanti
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Kekeringan yang masih melanda Bantul beberapa bulan ini menyebabkan lahan pertanian kesulitan untuk memeroleh air. Upaya petani menaikkan air sungai dengan menggunakan pompa rupanya tidak dapat menjangkau semua lahan yang kering.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Wukirsari Kecamatan Imogiri, Bandiman mengatakan, setidaknya ada 50 hektare sawah tadah hujan di desanya yang saat ini tak terjangkau air. 2 hektare sawah di antaranya ditanami padi tetapi saat ini sudah mengering.
"Airnya dari Sungai Opak. Tapi karena kemarau ini maka air dari sungai semakin sedikit. Tidak bisa menjangkau semua," kata Bandiman pada wartawan, Minggu (21/9/2014).
Menurutnya, semenjak kemarau panjang melanda wilayah Bantul, produktivitas padi juga menurun dibanding biasa. Dalam kondisi normal, produktivitas padi di Wukirsari mencapai 6,8 ton perhektare.
Namun memasuki musim kemarau ini, produksinya menurun menjadi 4,6 ton. "Yang 4,6 ton itu panen Bulan Juli saat sudah memasuki kemarau. Sebelumnya mencapai 6,8 ton," paparnya.
Untuk tetap menjaga produktivitas lahan di musim kemarau, petani di Wukirsari memilih menanam palawija di lahannya yang kering. Namun ternyata hasilnya tetap saja menurun karena kekurangan air.
Bandiman menuturkan, tanaman kacang hijau yang menjadi rusak ditandai dengan daun yang rontok dan batang mengering karena kekurangan air. Namun untuk kacang tanah tidak mengalami penurunan yang drastis.
"Produksi kacang tanah 1,1 ton per hektare. Ini masuk musim tanam ketiga. Memang biasanya untuk sawah tadah hujan hanya ditanami padi dua kali. Selebihnya ditanami palawija," tambahnya. (tribunjogja.com)