Mbah Kemi Tidur Beratapkan Karung setelah Rumahnya Ambruk

Kemi mengaku terpaksa menata 'rumahnya' itu sendiri karena tak memiliki tempat tinggal

Penulis: say | Editor: Ikrob Didik Irawan

Laporan Reporter Tribun Jogja, Siti Ariyanti

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Perempuan yang sehari-hari rambutnya selalu digelung itu sibuk membatik ketika Tribun Jogja menyambanginya di Gunung Butak RT 6, Desa Caturharjo, Pandak, Bantul, Kamis (11/9/2014). Tak jauh dari tempatnya membatik, masih terlihat kayu dan berbagai barang lainnya berserakan.

Ia adalah Sukemi, perempuan berusia 58 tahun yang semenjak Rabu (27/8/2014) lalu terpaksa tidur di antara gedek yang ia tata seadanya. Itu ia lakukan karena rumahnya tiba-tiba ambruk. Di ruang sempit itulah Kemi, sapaan akrabnya beraktivitas, mulai dari memasak, membatik dan bahkan tidur.

Secara sepintas, tempat Kemi beraktivitas tak nampak sebagai sebuah ruangan. Gedek hanya dipasang berjajar di tiga sisi. Sementara satu sisinya langsung terlihat dari luar. Atapnya pun hanya terbuat dari karung plastik.

Kemi mengaku terpaksa menata 'rumahnya' itu sendiri karena tak memiliki tempat tinggal. "Lumayan bisa buat beraktivitas," katanya.

Ia menuturkan, tak tahu pasti penyebab rumah gedeknya yang sudah ditempai selama lebih dari 10 tahun tiba-tiba ambruk. Padahal, saat kejadian tidak ada angin kencang.

Kemungkinan kata Kemi, tiang-tiang rumahnya sudah lapuk. Beruntung saat kejadian, Kemi yang sudah berstatus janda itu langsung berlari ke luar menyelamatkan diri.

"Sepulang saya mencari rumput, saya masuk rumah untuk bikin minum. Pas itu saya denger suara kayu kaya saling bergesekan gitu. Saya langsung ke luar, eh ternyata langsung ambruk," ujar Kemi.

Penghasilannya sebagai buruh batik hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan saja. Satu kain dengan panjang 2,5 meter dapat selesai dikerjakan dalam waktu empat hari.

Sedangkan upah yang ia peroleh hanya Rp 17.000 setiap satu kainnya. Dalam sebulan, ia hanya dapat membatik enam atau tujuh kain.

"Ada sawah tapi saya minta orang lain yang mengerjakan karena saya tidak ada tenaganya. Penghasilan saya ya hanya dari membatik itu," tuturnya.

Nenek yang telah memiliki dua cucu ini tinggal sendirian di rumah tersebut. Suaminya sudah meninggal cukup lama, sedangkan anak perempuannya ikut suami ke Muntilan.

Semenjak ambruk, anak Kemi memang sudah mengunjunginya tiga kali dan telah membantu membelikan asbes. Kemi mengaku tak kedinginan meskipun harus tidur hanya disekat gedek.

Kemi juga menolak tawaran adik-adiknya untuk tinggal bersama karena ingin hidup mandiri. "Saya engga enak kalau merepotkan yang lain. Saya di sini saja apapun keadaannya," katanya.

Kemi mengaku tak tahu secara pasti, kapan ia akan mulai membangun rumahnya. Untuk melakukan semua itu, tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Sepengetahuannya, Ketua RT maupun dari Pemerintah Desa (Pemdes) Caturharjo belum meninjau keadaannya. Meskipun demikian, Kemi mengaku tak mengharap bantuan dari siapapun.

"Engga tahu nanti bagaimana, karena kebutuhan anak saya banyak dan dia tinggalnya jauh. Kalau sampai musim hujan belum jadi, mungkin numpang di tempat adik saya dulu. Adik saya ada empat," ungkapnya. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved