Wanita Asal Magelang Ini Sudah Gemar Tatto Sejak Remaja
Tak hanya pria, seni tato juga digemari oleh banyak perempuan dari segala usia.
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: tea
Laporan Reporter Tribun Jogja.com, Agung Ismiyanto
TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Tak hanya pria, seni tato juga digemari oleh banyak perempuan dari segala usia. Seperti misalnya, Lusia (30), yang mengaku menyukai tato sejak usia remaja. Meskipun dia tetap mengasuh dua putranya, namun, tangan perempuan ini nampak dipenuhi tato.
"Saya mulai menato ketika menikah tahun 2006 silam. Bagi saya punya tato bukan sekedar status sosial atau kriminal. Namun, ini merupakan seni yang didukung penuh oleh keluarga saya," kata perempuan asal Malang, Jawa Timur ini.
Bahkan, saat jalan-jalan ke pasar atau tempat publik, Lusi juga tetap Pede dengan busana kasual dan tato yang memenuhi tangannya. Bahkan, dia juga masih terlihat mengasuh putranya dengan baik.
Di Kota Magelang Tattoo atau tato bagi sebagian orang masih memiliki image negatif, seperti anak nakal, preman, dan kriminalitas. Namun, sekelompok anak muda di Magelang menyelenggarakan kegiatan pameran tato berskala nasional di Gedung serbaguna Tri Bhakti Kota Magelang. Acara bertajuk "The Body Art" itu diikuti oleh 250 seniman tattoo untuk menampilkan karya terbaik mereka.
RIBUAN orang memenuhi gedung Tri Bhakti, Minggu (31/8/2014). Pakaian, hingga gaya rambut mereka nyentrik. Di beberapa bagian tubuh mereka, tampak dihiasi gambar tato beraneka ragam. Beberapa dari orang tersebut juga mengenakan anting dan aksesoris tindik lainnya di
beberapa bagian seperti wajah.
Sementara, ratusan seniman tato sibuk mendesain gambar di bagian tubuh pengunjung yang menjadi model untuk lomba tato tersebut. Di salah satu stan, dua orang seniman tato tampak sibuk menggoreskan warna di dada seorang model pria. Dua seniman tato ini menggunakan cara tradisional untuk menggambar tubuh pria tersebut.
Pada saat ratusan seniman lain mendesain tato dengan mesin yang modern, dua seniman tato ini mempertahankan cara tradisional. Cara tato tradisional ini, biasanya dilakukan oleh orang yang berasal dari suku Dayak dan Mentawai.
Seniman dari Durga Tato yang merupakan spesialis tato tradisional tersebut, menggores tinta pewarna ke tubuh pria tersebut dengan memukul jarumnya. Mirip seperti menatah kayu. Meski demikian, pria tersebut tampak menikmati proses kreatif tersebut, dan tidak mengerang kesakitan.
"Ini merupakan bukti bahwa nenek moyang Indonesia sudah mengenal tato sejak dulu. Ini juga merupakan seni asli Indonesia," kata Ketua Penyelenggara acara The Body Art #4, Fajar Prasetya kepada Tribun Jogja.
Pria berusia 30 tahun yang akrab dipanggil Shua ini memaparkan, dalam sejarahnya, suku Dayak dan Mentawai merupakan suku yang mengenal tradisi tato atau rajah ini. Menurut Shua, suku-suku tersebut menggunakan getah tumbuhan sebagai pewarna tato.
Adapun berdasarkan sumber dari Wikipedia, menurut sejarah, ternyata rajah tubuh sudah dilakukan sejak 3000 tahun SM (sebelum Masehi). Tato ditemukan untuk pertama kalinya pada sebuah mumi yang terdapat di Mesir. Dan konon, hal itu dianggap yang menjadikan tato kemudian menyebar ke suku-suku di dunia, termasuk salah satunya suku Indian di Amerika Serikat dan Polinesia di Asia, lalu berkembang ke seluruh suku-suku dunia salah satunya suku Dayak di Kalimantan. Tato dibuat sebagai suatu simbol atau penanda, dapat memberikan suatu kebanggaan tersendiri bagi si empunya dan simbol keberanian dari si pemilik tato. Sejak masa pertama tato dibuat juga memiliki tujuan demikian. Tato dipercaya sebagai simbol keberuntungan, status sosial, kecantikan, kedewasaan, dan harga diri.
Shua mengatakan, dengan diselenggarakannya acara ini, dia juga ingin memperkenalkan bahwa tato tidak identik dengan kriminalitas, premanisme, dan kenakalan remaja. Dari kegiatan yang diselenggaran untuk memperingati ulang tahun Indonesia Subculture (ISC) ke 10 ini, pihaknya ingin mengenalkan jika tato merupakan seni dan karya seni.
"Tato itu bukan preman tapi seni melukis tubuh. Ini yang kami bangun
untuk persepsi positif di masyarakat," paparnya. (*)