In Depth News Kawasan Prostitusi Sarkem
Sewa Rumah di Sarkem Tembus Rp4 Juta per Bulan
Nama Sarkem alias Pasar Kembang sudah tidak asing lagi bagi warga Yogyakarta maupun masyarakat Indonesia pada umumnya
Penulis: Hamim Thohari | Editor: tea
Karena besarnya biaya sewa tempat, Sita harus rela bayaranya yang hanya Rp100 ribu tiap kali melayani tamu terpotong Rp20 ribu untuk setor ke mucikari penyewa rumah.
PSK asal Surabaya tersebut mengatakan dirinya sudah berada di Sarkem selama 10 tahun. sebelumnya wanita yang telah berusia 45 tahun tersebut menjajakan cintanya di Solo. Diakuinya jika dibanding satu dua tahun belakangan, kondisi Sarkem kini semakin ramai setelah saat ini kawasan itu dilengkapi rumah karaoke.
"Karena Silir (kawasan prostitusi di Solo, Red) ditutup, maka saya pindah ke sini," ungkap Sita. Sebelum menjadi PSK, dulunya wanita tersebut pernah bekerja sebagai pelayan rumah makan dan toko. Diceritakan olehnya, awal dia terjerumus dalam dunia hitam itu ketika diajak temanya untuk bekerja di salon. Pada awalnya dia tidak tahu jika akan bekerja di salon plus. Karena desakan ekonomi, dia akhirnya menjalani pekerjaan menjadi PSK.
"Selain desakan ekonomi, yang melatar belakangi saya melakukan pekerjaan ini adalah kekecawaan saya terhadap lelaki yang pernah menikahi saya. Saya dulu pernah dua kali menikah, yang pertama meninggal dan yang kedua sering main perempuan," ungkapnya.
Hingga saat ini anggota keluarganya tidak ada yang tahu mengenai pekerjaanya sebagai PSK. Kepada keluarganya, Sita mengaku bekerja di Yogyakarta sebagai penjual nasi kucing.
Dalam sehari Sita melayani tiga hingga empat pelanggan. Ia lebih suka "berjualan" di siang hari . Saat ini Sita harus bersaing dengan sesama PSK yang berusia lebih muda. Dikatakan Sita, untuk PSK yang lebih muda bisa melayani hingga 10 pelanggan. "Dengan umur yang sudah segini saya sudah tidak sanggup untuk melayani tamu segitu," imbuhnya.
Momen libur Lebaran kemarin dikatakannya membawa berkah bagi para PSK Sarkem. Jumlah pelanggan yang menggunakan jasa Sita mengalami peningkatan. Jika pada hari biasa, Sita melayani empat tamu, dalam sehari dia bisa melayani hingga tujuh pelanggan saat libur Lebaran kemarin. Berdasarkan keterangan Sita PSK yang lebih muda bahkan bisa melayani hingga 13 pelanggan seharii
Imbauan
Setelah libur Lebaran ada kekhawatiran terjadi peningkatan jumlah PSK di Sarkem. Namun hingga saat ini belum ada penambahan jumlah PSK sejauh pengamatannya. Semenjak ditutupnya lokalisasi Doly di Surabaya diakui ada imbauan dari aparat setempat untuk tidak menambah jumlah PSK yang ada.
Ketua RW 3 Sosrowijayan, Sardjono, membenarkan hingga Sabtu (9/8) belum terjadi penambahan jumlah PSK. Dikatakan olehnya saat ini kurang lebih jumlah PSK yang setiap hari berada di wilayahnya 230 orang.
"Kami selalu pantau jumlah PSK yang keluar dan masuk ke wilayah kami. Jika ada PSK yang baru masuk harus melapor ke kami," ungkapnya.
Semenjak lokalisasi Doly ditutup, Sardjono sudah mewanti wanti kepada pengelola losmen untuk tidak menerima PSK baru. Hal tersebut terkait daya tampung yang sudah penuh di kawasan Sosrowijayan Kulon itu.
"Saat ini kondisi di sini sebenarnya telah sangat padat, dengan hanya terdapat 40 losmen sedangkan PSK yang ada di sini 230, tentu jumlah tersebut sudah tidak sebanding," ungkapnya.
Jika setiap losmen yang ada di Sarkem memiliki tiga hingga empat bilik, maka jumlah yang tersedia hanya 160 bilik. Jumlah tersebut lebih sedikit dibanding jumlah PSK yang ada.
Sardjono mengungkapkan dia berharap agar jumlah PSK yang ada di dearahnya sesuai daya tampung yang ada.