Lipsus TPA Piyungan Kritis

Harus Serius Urus Sampah

Program pengelolaan sampah harus menjadi entry point sehingga sampah di masyarakat tidak semakin banyak. Pengelolaan di TPA pun jangan hanya ditumpuk

Penulis: Yoseph Hary W | Editor: Ikrob Didik Irawan

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - PROBLEM sampah di Yogyakarta sebenarnya telah ditangani banyak petugas yang mengambil ke lokasi penampungan sementara. Selain itu juga mendapat dukungan dari masyarakat dengan mengumpulkannya di setiap RT.

Namun, selama ini pengelolaan oleh pemerintah belum sesuai. Itu karena pemerintah masih mengelola sampah "by project". Tindaklanjutnya seperti apa, nyatanya belum terbayar.

Program pengelolaan sampah harus menjadi entry point sehingga sampah di masyarakat tidak semakin banyak. Pengelolaan di TPA pun jangan hanya ditumpuk.

Saya rasa memang kinerja pemerintah setempat untuk mengelola sampah masih bisa dibilang belum serius. Buktinya sanitary landfill belum berjalan. Keseriusan itu harus ditunjukkan dengan menjadikan TPA Piyungan sebagai perhatian utama.

Sekarang yang menjadi problem di TPA adalah sampah yang hanya ditumpuk tanpa proses sanitary landfill. Sampah organik dan anorganik pun akan cenderung meningkat volumenya.

Tanpa itu, volume sampah pasti meningkat karena makanan dan minuman hasil produksi saat ini cenderung menggunakan bahan yang akhirnya menjadi sampah. Sementara sistem penumpukan dan pemilahan sampah di tingkat masyarakat belum bisa menjadi solusi.

Misal adanya bank sampah, saya yakin masyarakat telah melakukannya sejak dulu. Tapi apakah terkoordinasi? Saya kira hanya sedikit atau sebagian masyarakat yang mengelolanya.

Lagi pula, pengelolaan sampah layak jual atau mendaurnya menjadi kerajinan sebenarnya hanya memperpanjang usia nilai barang. Pada akhirnya akan sampai titik akhir, menjadi sampah lagi. Itu pun sudah solusi, tapi jangka pendek.

Nah, kesadaran masyarakat memilah dan mengelola sampah memang tetap harus didorong. Tapi pemerintah juga harus lebih serius.
Selain menerapkan sanitary landfill, pemerintah juga perlu menggalakkan sosialisasi agar masyarakat memiliki perencanaan awal menggunakan barang yang tidak banyak menghasilkan sampah.

Sampah sebagai sisa kegiatan manusia memang tidak bisa dihindari. Maka masyarakat harus terbiasa memilah antara sampah organik dan anorganik. Itu artinya harus ada fasilitas tempat sampah berbeda di setiap rumah.

Jika sampah terkumpul di masyarakat sudah dalam kondisi terpilah, petugas pemerintah yang mengambil pun perlu meneruskannya ke TPA. Di sini lah peran pemerintah untuk lebih serius mengelola sampah secara terus menerus, tidak hanya by project. (*)

HALIK SANDRA
Direktur Walhi Yogyakarta

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved