Tarantula Juga Bisa Jinak Loh!
Bahkan kini mulai banyak orang yang tertarik menjadikannya hewan peliharaan
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Yudha Kristiawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - WAJAR bila orang awam melihat Tarantula, binatang yang termasuk jenis laba-laba ini akan bergidik dan spontan menghindar agar tidak bersentuhan. Ya, Tarantula adalah nama yang diberikan pada laba-laba yang masuk pada keluarga theraphosidae ini.
Memiliki bentuk fisik yang berbulu dan berukuran cukup besar untuk ukuran laba-laba, binatang ini tak seseram dan seberbahaya seperti penampakkannya. Bahkan kini mulai banyak orang yang tertarik menjadikannya hewan peliharaan.
Adalah sekelompok anak muda Yogyakarta yang tergabung dalam Tarantula Owner Yogyakarta yang mengawalinya.
Fakhreza Akbar Susilo (Reza) salah satu anggotanya. Tujuan Reza membuat wadah bagi para pecinta Tarantula adalah perlahan hendak menyampaiakan pesan bahwa binatang yang namanya berasal dari kota Taranto, Italia ini tidak mematikan. Tarantula bisa dipelihara seperti yang dilakukannya bersama belasan pecinta Tarantula lainnya.
"Kami ingin menunjukkan kalau Tarantula itu bisa dipelihara seperti kucing atau binatang lain. Orang selama ini tahunya kalau Tarantula itu berbahaya karena memiliki racun yang mematikan, padahal tidak. Kena rambut atau gigitannya biasanya hanya gatal saja dan sakit gigitannya hanya perih biasa, “ ujar Reza sembari mengeluarkan salah satu koleksi Tarantulanya.
Salah satunya adalah jenis Brachypelma Smithy yang ia beli tiga tahun lalu dengan harga Rp 200 ribu. Saat itu, panjang tubuhnya masih 1 cm. Saat ini panjangnya sudah mencapai sekitar 10 cm. Reza memiliki sekitar enam ekor Tarantula, tiga jenis masing-masing berpasangan.
“Jenis Brachypelma Smithy ini saya beri nama Venus, ada sepasang. Karakternya kalem, termasuk new world, tidak mengigit, venomnya low. Paling kalau merasa terancam, dia akan merontokkan bulu-bulunya untuk melindungi diri. Kalau kena bulunya paling gatal saja, tapi kalau terhirup bisa sesak juga, masing-masing orang beda efeknya”, kata Reza.
Koleksi Reza lainnya adalah sepasang Tarantula jenis Chromatopelma Cyaneopubescens atau green botle blue, berasal dari benua Amerika. Ciri fisiknya memiliki warna kaki biru, karapas hijau metalik, dan abdomen (perut belakang) orange. Selain itu, Reza juga memiliki sepasang jenis Avicularia Diversipes dari Brazil.
“Kalau yang jenis Avicularia. Fisiknya, kurang menarik, merah buluk, kalau masih anakan ukuran 1 cm warnanya dominan biru, kalau ukuran 3 cm ada garis merah di abdomen, termasuk langka,” kata Reza.
Pecinta Tarantula lainnya adalah Abdul Latief Agusetiawan. Pelajar yang baru sekitar 7 bulan lalu memelihara Tarantula ini mengaku sempat beberapakali memiliki pengalaman buruk dengan hewan peliharaan.
Setelah tahu bahwa Tarantula bisa dipelihara dan cukup mudah merawatnya, ia pun akhirnya memutusakan membeli beberapa jenis Tarantula.
“Aku dapat info di internet, ternyata bisa dipelihara, akhirnya beli satu, kok pengin lagi, beli lagi. Sekarang aku punya beberapa jenis, salah satunya Bracilpelma albopilosum. Tapi paling suka jenis Cyrio Cosmus Elegants dari Bolivia, ini umur satu tahun. Yang unik dari cyrio itu, di abdomennya ada bentuk lovenya. imut-imut, kalau takut dia sembunyi, ukurannya small, “ kata Latief.
Menurut Latief, pada dasarnya Tarantula terbagi dalam dua jenis berdasarkan tipe kemampuan pertahanan tubuh, yakni Old World dan New World. Jenis Old Wolrd tersebar luas di kawasan Asia Pasifik, dengan ciri-ciri bulu di badannya yang tidak terlalu banyak dan sifatnya agresif, ketika ia terancam akan menggigit.
“Jenis New World tersebar di kawasan Amerika dan sekitarnya, ciri-cirinya memiliki bulu yang lebih lebat dan cenderung lebih kalem terhadap manusia. Kalau merasa terancam, jenis ini akan melepaskan bulu-bulu tubuhnya, efeknya bisa membuat kulit kita gatal,” terang Latief.
Latief menambahkan, berdasarkan lingkungan tempat tinggalnya bisa digolongkan menjadi dua, yakni golongan arboreal dan golongan terrestrial. Tarantula Arboreal cenderung suka ketinggian seperti di pepohonan dan memiliki rentang kaki yang lebih panjang sehingga lebih gesit.
“Tarantula terrestrial lebih suka berdiam diri di tanah dan menggali lubang”, imbuh Latief. (Tribunjogja.com)