Lukisan Karya Widayat Dipamerkan
Untuk lukisan terkecil H Widayat, berukuran 2x2 sentimeter yang dipamerkan di Museum Haji Widayat di Kota Mungkid
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto
TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Lukisan terpanjang dan terkecil karya seniman lukis legendaris Magelang, H Widayat dipamerkan kepada publik di Magelang. Lukisan yang terbilang cukup langka ini dipamerkan di beberapa tempat, yakni di Gedung Tribhakti, Magelang dan Museum H Widayat, Kota Mungkid.
Untuk lukisan terkecil H Widayat, berukuran 2x2 sentimeter yang dipamerkan di Museum Haji Widayat di Kota Mungkid. Sementara, untuk lukisan terpanjang H Widayat yang pernah meraih rekor MURI ini dipamerkan di Gedung Tribhakti, Magelang.
Lukisan sepanjang 138 meter ini, sebelumnya belum pernah dipamerkan. Selain di kedua lokasi itu, lukisan Widayat juga dipamerkan di OHD Museum Jalan Jenggala 14 Kota Magelang.
Dr Oei Hong Djien (OHD), pemerhati dan pecinta seni lukis di Kabupaten Magelang menjelaskan karya H Widayat tersebut selama ini tidak diketahui publik, karena koleksi pribadi keluarganya.
"Karya-karya ini langka. Belum sempat dipamerkan langsung dibeli kolektor," jelas Dr Oei Hong Djien kemarin.
OHD mengaku sangat mengagumi sosok Widayat dengan karya-karyanya yang istimewa. Menurutnya, karya Widayat mengundang ketertarikan tersendiri bagi pakar-pakar seni rupa.
Bagi OHD, Widayat pantas disejajarkan dengan Affandi, S. Sudjojono dan Hendra Gunawan. Mereka pionir seni lukis modern Indonesia. "Widayat adalah pionir keempat," katanya.
Pada Sabtu (26/4) sore, selain pameran karya Widayat yang menjadi koleksi Oei Hong Djien di Museum OHD, juga peluncuran buku "Pioneer Number Four-H. Widayat" karya Dr Helena Spanjaard dan Oei Hong Djien.
Direktur Museum Haji Widayat (MHW) Fajar Purnomo Sidi menambahkan, pihaknya juga memamerkan karya-karya H Widayat yang merupakan koleksi Museum H Widayat. Ada sekitar 500 item karya Widayat sejak 1952-2002, antara lain mengunakan kanvas, keramik, terakota, patung, rebana, dan bambu.
Menurut pria yang akrab dipanggil Pungky, lukisan tersebut dijual dengan kisaran harga Rp35 juta sampai Rp50 juta untuk penggalangan dana.
"Dana yang terkumpul untuk kepentingan museum. Pameran ini juga untuk menunjukkan bahwa Museum Haji Widayat tetap eksis.Selama ini sebagian dipajang dan sebagian lagi disimpan di gudang," katanya.
Menurut Pungky sebanyak 40 seniman juga memamerkan 47 lukisan di Museum Widayat. Pameran dengan nama "Untukmu Guru" berlangsung sejak 26 April hingga 31 Agustus 2014. Menurut.
Menurutnya, 47 karya yang dipamerkan oleh para seniman yang sebagian besar para murid Pak Widayat sewaktu di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Selama Widayat mengajar, katanya, banyak karya mahasiswa yang dianggap baik dan bermutu dikoleksinya karena ketika itu, Widayat sudah mempunyai pikiran untuk membuat museum.
Widayat meninggal dunia pada 2002. Setelah tiga dekade mengajar di ISI Yogyakata, pada 1998. (Tribunjogja.com)
Skandal Kuliner Terkait
Disegel, Bakpia Tidak Asli Jadi Buronan di Malaysia