Jejak Maritim Dinasti Sailendra di Candi Borobudur
Benarkah Mataram Kuno adalah sebuah kerajaan maritim seperti Sriwijaya?
Perdagangan di sekitar sungai membuat daerah sepanjang sungai dan muara sungai yang dekat dengan pantai menjadi maju. Dari tempat berdagang, muncul pedesaan lalu berubah menjadi kota pusat perdagangan seperti disebutkan dalam prasasti Telang (Wonogiri), prasasti Harinjing, dan juga Kamalagyan.
Peneliti utama dari Pusat Arkeologi Nasional (Pusarnas) masa klasik Hindu-Buddha, Bambang Budi Utomo, punya teori lain. Menurut dia, bisa jadi raja-raja dari Wangsa Sailendra sudah berlayar jauh hingga ke Sumatera, Malaysia, bahkan ke Thailand. Dugaan itu muncul karena ada bukti temuan arkeologis berupa arca-arca bergaya Sailendra yang berciri mahkota Bodhisatwa terbentuk dari rambut yang dipilin. ”Masa Mataram Hindu (kuno) kerajaannya memang bersifat agraris, tetapi segi kemaritiman juga diperhatikan,” kata Bambang.
Jika tidak diperhatikan, kata Bambang, tak akan ada arca-arca berlanggam Sailendra di Sumatera, Malaysia, hingga Thailand. ”Kalau sampai sejauh itu, artinya Sailendra punya armada kuat untuk mengarungi lautan,” ujar Bambang.
Bukti kuat raja Wangsa Sailendra sudah berlayar jauh tersurat di Prasasti Ligor bertahun 775 di Thailand selatan. Prasasti itu menyebutkan pembangunan Trisamaya Caitya (bangunan suci) untuk Padmapani, Wajrapani, dan Sakyamuni oleh raja Sailendra bernama Rakai Panangkaran yang disebut sebagai Wairiwirawimardhana (pembunuh musuh-musuh yang gagah berani). Prasasti itu ditemukan di Nakhon Sritammarat, di wihara bernama Vat Sema Muang.
”Keberadaan Wangsa Sailendra di negeri seberang bukan untuk penaklukan, melainkan membangun koalisi dagang,” kata Bambang. (Lusiana Indriasari/kompas)