Cak Nun : Muhammadiyah dan NU Tidak Ada Perbedaan

"Ketika NU dan Muhammadiyah sama-sama mengajak umatnya menaati ajaran Nabi Muhammad untuk mencapai Allah, maka diantaranya tidak ada perbedaan,"

Tayang:
Penulis: pdg | Editor: Ikrob Didik Irawan

Laporan Reporter Tribun Jogja, Padhang Pranoto

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Dalam acara bertajuk 'Kidung Pandunga Suran, Kawula Mataram', Emha Ainun Nadjib atau yang lebih dikenal dengan Cak Nun mengajak jemaah untuk melupakan perbedaan dan jeli melihat sisi persatuan. Acara ini diselenggarakan di area makam Panembahan Senopati Kota Gede, Senin (11/11/2013).

Cak Nun menganggap keberagaman di Indonesia ini meliputi berbagai hal termasuk dalam bidang keagamaan. Cak Nun mencontohkan masyarakat Islam Indonesia menganut dua Ormas besar yakni NU dan Muhammadiyah.

Menurutnya kedua ormas ini memang berbeda dalam hal implementasi dakwah. Namun jika dilihat lebih jeli keduanya saling mengajak umatnya menuju ajaran Nabi Muhammad untuk mengagungkan Allah.

"Ketika NU dan Muhammadiyah sama-sama mengajak umatnya menaati ajaran Nabi Muhammad untuk mencapai Allah, maka diantaranya tidak ada perbedaan," terang Cak Nun.

Cak Nun berpandangan berorganisasi adalah hal yang sah dan bagian tak terpisahkan dari keberagaman Indonesia. Hal tersebut juga seharusnya tidak menjadi bibit perpecahan, justru harus dimaknai secara positif, bahwa perbedaan merupakan rahmat Tuhan yang perlu disyukuri bukan untuk diperdebatkan.

Selaras dengan pesan yang disampaikan Cak Nun, Hendra Buana seorang pelukis Yogyakarta, merelakan lukisannya berjudul Bahtera Nuh berdimensi 3 x 10 meter menjadi backdrop acara ini.

Lukisan Bahtera Nuh seolah menggambarkan suasana keberagaman Indonesia.

Selain diisi dengan ceramah Cak Nun, acara ini juga dimeriahkan dengan parade Sholawat, tembang macapat dan penampilan dari Kyai Kanjeng.

Widihasto selaku sekretaris acara ini mengatakan acara ini merupakan sebuah event insidentil dalam tujuan memperingati bulan Muharram.

Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Rumah budaya Emha Ainun Nadjib, GP Ansor dan Sekretariat bersama Keistimewaan DIY. Pantauan Tribun Jogja, meskipun ditengah guyuran hujan lebat, para jemaah tidak beranjak dan semakin memadati pengajian dari pukul 20.00 hingga pengajian berakhir sekitar pukul 01.23 pagi.

Acara ditutup dengan menyanyikan lagu berjudul 'Kemesraan' secara bersama-sama, dengan bergandengan tangan. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved