Teroris di Solo

Bom Diledakkan, Serpihan Atap Terbang 100 Meter

buku jihad, 3 buah senjata api rakitan laras panjang, 4 buah pedang, dan 2,5 kilogram cairan pembuat bom.

Penulis: Ikrob Didik Irawan | Editor: Iwan Al Khasni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Iqrob Didik

TRIBUNJOGJA.COM, SOLO - Densus 88 menangkap para terduga teroris di Solo dari beberapa lokasi berbeda, Sabtu (22/9/2012). Dari para terduga teroris itu, Densus mengamankan sejumlah bom rakitan dan bahan pembuat bom.

Usai penggrebekan, tim Gegana langsung menggeledah setiap sudut rumah Badri dan Khumaidi, terduga pelaku teror.  Di rumah Badri, petugas menemukan sepuluhan pipa paralon diameter 10 centimeter dengan panjang 1,5 meter, 10 detonator, pupuk urea, belerang, potasium. Selain itu ada pula arang, buku jihad, 3 buah senjata api rakitan laras panjang, 4 buah pedang, dan 2,5 kilogram cairan pembuat bom.


Sementara di rumah Khumaidi, petugas menemukan 18 potong pipa paralon 6 diantaranya berisi bahan peledak, bubuk mesiu, potasium, belerang, serta lima buah bom cair rakitan. Lima bom inilah yang diledakkan satu per satu oleh petugas di teras rumah Khuamidi. Bom pertama hingga keempat memiliki daya ledak rendah. Suara ledakan yang ditimbulkan hanya mirip suara petasan.

Baru pada bom kelima, suara ledakan membuat warga sekitar kaget dan berhamburan rumah. Sebab, suara yang terdengar hingga radius 500 meter itu menggetarkan tembok dan kaca rumah. Warga panik dan bingung mencari tempat aman.

“Tembok rumah saya bergetar semua. Serpihan seng atap rumah Mas Midi (Khuamidi) sampai terbang ke depan rumah saya. Padahal jaraknya seratusan meter,” kata Suratmi sambil menujukkan seng selebar telapak tangan.


Akibat ledakan itu, teras rumah Khumaidi hancur berantankan. Genteng-genteng dan pot bunga berserakan di tanah. Seluruh kaca jendala juga pecah berkeping-keping. Kerusakan juga terjadi di rumah-rumah sekeliling. Irma, tetangga Khumaidi mengaku, tembok rumahnya mengalami sedikit retak. Beberapa plafon rumahnya juga pecah terbelah jadi dua. “Katanya kerusakan mau diganti pihak polisi,” katanya.


Terduga teroris Badri adalah warga asli Griyan yang memiliki delapan orang anak. Sri Partini, tetangga Badri menuturkan, tentanggnya sehari-hari bekerja sebagai peternak burung parkit. Sementara Hanifah istri Badri, berjualan sayur mayur. “Tapi sejak habis Lebaran lalu istrinya tak lagi berjualan sayur. Katanya repot,” ujarnya.


Di mata Sri, Badri adalah tetangga yang tertutup karena jarang bergaul dengan warga sekitar. Perubahan sikap Badri terjadi setelah menikah. Badri menjadi sosok yang sangat taat beribadah namun pendiam. “Kalau malam, dia kadang punya tamu asing. Sekilas, kegiatannya biasa saja yakni berternak parkit. Tak ada yang menyangka kalau dia menyimpan bom,” katanya.


Tipikal yang sama juga dimiliki oleh Khumaidi, terduga teroris lainnya. Menurut Eka Herwidana, Ketua RT 7 RW 10, Khumaidi tinggal di rumah bersama Warni (ibu) dan Supini (budhe). Sehari-hari, pria yang masih sendiri meski usianya berkepala empat itu bertugas merawat keduanya yang mengalami sakit stroke. “Dia orangnya memang sopan, hanya saja jarang bergaul dengan warga,” kata Eka.


Menurut Eka, berapa tahun lalu ia pernah menegur Khumaidi saat melakukan aktifitas berlatih silat. Sebab latihan itu dilakukan di lokasi gelap bersama sejumlah orang. Saat malam hari, Khumaidi juga kadang menerima tamu asing. “Sangat jauh berubah, malam tirakatan (17 Agustus) kemarin dia tak datang. Padahal sebelumnya selalu hadir setiap tahun,” katanya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved