Penembakan di Solo

Mertua Teroris Ikut Babak Belur

Wiji mengalami luka di bagian muka. Kedua matanya lebam, ditambah empat jahitan di bawah matanya sebelah kiri.

Editor: Iwan Al Khasni

Pistol Polisi Pilipina

Selain menangkap Bayu, Densus 88 juga menembak mati dua terduga teroris, yang diduga menjadi pelaku penembakan di Pos Polisi Kota Solo dalam beberapa hari terakhir. Mereka yang dilumpuhkan di Jl Veteran Solo itu adalah  Farhan dan Muchsin, masing-masing berusia 19 tahun.

"Kemarin (Jumat) sekitar pukul 21.30 WIB telah dilakukan operasi penegakan hukum oleh Detasemen Khusus 88," kata Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo saat jumpa pers di Kantor Polresta Surakarta, Sabtu (1/9).

Jaringan teroris yang tewas ditembak di Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat (31/8) malam, lanjut Timur, pernah menjalani pelatihan di Filipina Selatan. Pistol merek Bareta yang dipakai untuk melakukan aksi teros di Solo diduga kuat merupakan senjata organik Kepolisian Nasional Filipina yang diperoleh secara ilegal.

Di pistol kaliber 9 mm buatan Itali itu tertulis PNP (Property Philipines National Police) alias barang inventaris Kepolisian Nasional Filipina. Polisi juga dapat menyita  tiga magazin, 43 peluru kaliber 9 mm merek Luger, dan sembilan holopoint CBC. Senjata api genggam tersebut digunakan dua terduga teroris yang ditemkab mati Densus 88.

"Hasil pemeriksaan saksi, senjata yang digunakan identik dengan senjata untuk penyerangan Pospam," katanya. Selain itu, dua tersangka teroris yang tewas juga sangat terlatih dalam menggunakan senjata api.

Timur menambahkan, senjata milik tersangka teroris tersebut identik dengan yang digunakan pelaku untuk menyerang Pospam Lebaran beberapa waktu lalu. "Ada perlawanan yang kuat sehingga anggota kami menjadi korban," ujar Timur.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Boy Rafli mengatakan, Farhan diduga orang yang pernah bergabung dengan kelompok Mujahidin Abu Sayyaf di Filipina Selatan. Ia juga pernah berlatih senjata di Sulawesi.

Farhan diduga kembali ke Indonesia sejak Juni 2012 lalu, setelah memiliki kemampuan menggunakan senjata laras pendek dan senjata laras panjang yang baik.

Abu Umar

Pengamat terorisme, Noor Huda Ismail, menyebut Farhan adalah alumni Ponpes Al Mukmin Ngruki. Selain itu, ia menduga, Farhan adalah anak tiri teroris Abu Umar. Dari Abu Umar-lah, Farhan diduga mendapatkan senjata api serta menggelar latihan militer. "Data yang kami peroleh, Farhan itu anak tiri Abu Umar," kata Noor Huda.

Menurut Noor, sangat janggal Farhan yang masih berusia 19 tahun itu ikut latihan militer di Moro, Filipina dan merupakan jaringan baru. Ia justru meyakini, Farhan mendapatkan doktrin antipolisi dan pelatihan militer oleh ayah tirinya, Abu Umar.

Itulah sebabnya, kata Noor, alasan bahwa Farhan menyerang polisi karena balas dendam itu tak bisa terkuak sebelum melihat aktivitas ayah tirinya, Abu Umar selama ini.

Abu Umar pernah menjabat direktur Darul Islam (DI). Pria yang bernama Muhammad Ichwan ini merupakan teroris spesialis penyerang polisi dengan keahlian memasok senjata api dari Filipina. Selain itu, ia juga pernah merencanakan pembunuhan kepada Matori Abdul Jalil, menteri di era  pemerintahan Gus Dur.

Pada 1997, Abu Umar dikirim ke Mindanao untuk pelatihan militer bersama Enceng Kurnia, pria yang tewas 2010 lalu setelah melarikan diri dari kamp Aceh. Pada 2002, Abu Umar bersama keluarganya pindah ke Sebatik, Kalimantan Timur. Ia tinggal di sana selama tiga tahun, dengan misi utama membantu mendirikan fasilitas pelatihan baru di Mindanao, menyusul pengrusakan Camp Abubakar oleh tentara Filipina pada tahun 2000.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved