Penembakan di Solo
Mertua Teroris Ikut Babak Belur
Wiji mengalami luka di bagian muka. Kedua matanya lebam, ditambah empat jahitan di bawah matanya sebelah kiri.
TRIBUNJOGJA.COM KARANGANYAR, - Selain menembak mati Parhan dan Muchsin, Densus 88 menangkap tersangka teroris bernama Bayu Setyono (24) di Bulurejo, Gondangrejo, Karanganyar, Jumat (31/8) malam.
Penangkapan terduga teroris itu diwarnai tindakan keras personel Densus 88 Antiteror terhadap Wiji Siswosuwito (64), mertua Bayu. "Kepala saya masih pusing sehabis kejadian malam kemarin (Jumat)," ucapnya ketika ditemui di Karanganyar, Jawa Tengah, Sabtu (1/9).
Akibat kejadian itu Wiji harus dirawat jalan di Rumah Sakit dr Oen, Solo. Wiji mengalami luka di bagian muka. Kedua matanya lebam, ditambah empat jahitan di bawah matanya sebelah kiri.
Kondisi itu membuat pihak keluarga tidak mengizinkan Wiji terlalu banyak berpikir dan berbicara.
"Setelah penangkapan tadi malam, kakak saya ditinggalkan begitu saja. Kemudian kami membawanya ke Puskesmas Gondangrejo dan di sana dijahit. Setelah pulang, dia mengeluhkan pusing kepala, lalu dibawa ke RS dr Oen.
Dari hasil pemeriksaan, pusing tersebut diakibatkan karena benturan semalam. Untung hasil scan kepalanya dinyatakan normal. Kakak saya diminta untuk rajin minum obat dan banyak beristirahat," tutur Subagyo (48), adik bungsu Wiji.
Berdasarkan cerita Wiji yang disampaikan kepada Bagyo, penggrebekan terjadi pada tengah malam saat keluarga Wiji terlelap. Petugas memasuki rumah dengan menendang pintu utama. Kemudian mereka masuk ke kamar Wiji yang terbuka dan lampunya dihidupkan.
"Kakak saya tidur bersama cucunya. Mereka masuk secara paksa sambil menodongkan pistol sehingga dikira perampok. Saat ada yang menodongkan pistol ke arah kakak saya, kakak saya refleks menepis senjata itu. Kemudian tangannya diikat dengan lakban dan sempat kepalanya dibenturkan ke lantai tanah ini," jelasnya.
Setelah melumpuhkan Wiji, Densus 88 kemudian mendobrak pintu kamar Bayu dan istrinya. Pintu tersebut sekarang dalam kondisi berlobang akibat didobrak. Kemudian Bayu ditangkap dan dibawa pergi bersama sebuah tas hitam miliknya yang berada di dalam kamar.
"Saat itu saya juga tidur, kemudian saya dibangunkan istri saya setelah mendengar suara pengrebegan itu. Kata istri Bayu (Rini) tas hitam yang dibawa petugas itu biasanya hanya diisi Alquran, sajadah, dan kopiah," tambahnya.
Di tengah keluarga, Bayu dikenal memiliki karakter pendiam. Meskipun setiap hari rajin pulang ke rumah mertuanya tersebut, namun waktu pulangnya selalu malam. Bayu sehari-hari bekerja sebagai penjual produk minuman tradisional ke warung-warung, setelah berhenti bekerja di sebuah perusahaan makanan sebelum Lebaran lalu.
"Dia orangnya pendiam. Kalau ketemu dengan warga lain juga menyapa. Rajin salat dan cukup sering datang di pertemuan RT sini. Katanya dia bekerja mengedarkan minuman wedang uwuh ke warung," ucap anak Subagyo, Wahyu Sasongko (17).
Namun di lingkungan kampung tersebut, masyarakan mengenal Bayu sebagai sosok yang jarang bertandang ke sanak saudara istrinya dan tetangga di kampung itu. Selain itu, dia selalu pulang pada malam hari.
"Jarang keluar dan jarang ngomong. Saat ada hajatan pun yang sering kelihatan hanya istrinya saja," kata Wiji Saksono (62), warga kampung tersebut.
Rini, suami Bayu, tak yakin suaminya menjadi terduga teroris. Alasannya tidak ada tanda-tanda mencurigakan. Setiap suaminya pergi juga selalu meminta izin. Rini dan B telah menikah selama 8 bulan.
"Saya tidak tahu suami saya di bawa kemana, saya tak tahu bagaimana kondisinya," ujar Rini.