Waspadai Penipuan Berkedok Manajemen Artis
Beberapa tahun belakangan ini marak ajang-ajang pencarian bakat dan ajang-ajang serupa lainnya.
Penulis: tea | Editor: tea
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Beberapa tahun belakangan ini marak ajang-ajang pencarian bakat dan ajang-ajang serupa lainnya. Begitu pun ajang pencarian bakat penyanyi bagi difabel yang diadakan pada tanggal 22 april 2012 bertempat di Pendopo Tamansari Yogyakarta.
Telah dilaksanakan Lomba Cipta Bintang Difabelse-jawa tengah dan DIY oleh Syailendra Manajemen Artis. Setiap peserta dikenakan uang pendaftaran sebesar Rp. 50.000. Kurang lebih sebanyak 40 peserta penyandang disabilitas yang terdiri dari penyandang tuna netra dan tuna daksa mengikuti lomba tersebut.
Dalam penjurian lomba tersebut telah diputuskan pemenang Lomba Cipta Bintang Difabel 2012 sebagai berikut kelompok putra, Juara I/II/III: Sugeng, Agus Putranto Dan Mulyanto. Juara Harapan I/II/III: Taufik Hajat, Nubuat Muhammad Maghribi, dan Angga Yanuar. Kelompok putri, Juara I/II/III: Y.Pinarti Rahayu, Reny Indah BS Dan Titin Murtiningsih. Juara Harapan I/II/III: Vika Desta Sandratara, Wulandari, dan Siti Rohani, Juara favorit: CH. Shinta berliana
Pada lomba dimaksud telah diberikan piala pada hari tersebut. Namun kepada pemenang Lomba Cipta Bintang Difabel pihak syailendra masih belum menyelesaikan kewajibannya seperti yang tertulis dalam formulir pendaftaran, mengenai uang pembinaan kepada para pemenang. Seperti yang telah dimuat pada media cetak, melalui juru bicara syailendra manajemen artis tersebut mengatakan, pihaknya mencari dua pemenang kategori putra dan putri, selanjutnya akan dibuatkan video klip untuk diedarkan ke masyarakat, juga akan membuatkan album musik untuk pemenang lomba. Hal ini pun tertulis dalam lembar formulir para peserta. Pemberitaan ini pun dimuat dalam media cetak.
Difabel and Friends Community (diff com) mewakili tiga rekannya yang menjadi pemenang (Renny Indah BS, Topik Hajat dan Nubuat Maghribi) mencoba menyelasaikan melalui cara musyawarah pada pihak Syailendra Manajemen Artis untuk melaksanakan kewajibannya tersebut, namun hanya janji-janji kosong.
Menurut Butong sebagai koordinator diffcom, dalam proses usaha penyelesaian masalah ini, akhirnya kami jadi mengetahui bahwa ke 13 pemenang pun belum menerima apa yang dijanjikan kecuali piala oleh pihak syailendra, bahkan tidak ada kabar sama sekali mengenai kejelasannya. Sehingga beberapa pemenang di luar komunitas turut mendukung apa yang dilakukan diffcom.
“Sudah menjadi pembohongan publik, karena sudah di muat pada media seakan-akan syailendra manajemen artis peduli dengan difabel dan telah memenuhi kewajibannya kepada peserta,” katanya.
Bahkan lebih jauh lagi, pencemaran nama baik bagi pihak-pihak yang namanya dicantumkan dalam lomba tersebut sebagai piala yang diperebutkan. Selain itu mengindikasi peng-obyek-an acara dengan peserta difabel untuk kepentingan pribadi.
“Saya akui ada beberapa kelemahan secara hukum dari rekan-rekan kami dalam formulir pendaftaran, hal ini karena tidak ada tandatangan dari peserta. Hal itu karena beberapa peserta adalah tuna netra. Namun hal itu tidak menyurutkan kami bersama-sama dalam mencari keadilan,” ungkapnya.
Menurut info dari Nubuat magribi, seorang tunanetra yang juga pemenang dalam lomba ini mengatakan, bahwa juara satu kategori pria adalah tunanetra dari solo yaitu Sugeng. Dia jauh ke yogyakarta untuk mengikuti lomba tersebut.
Lanjutnya, seandainya hukum pun tidak melihat, ada Yang Maha Melihat. Sehingga kami yakin memperjuangkannya, hingga akan terang dimata hukum.
Menurut info yang kami peroleh langsung dari ketua panitia yangberinisial PDS, kantor pusat syailendra manajemen artis tersebut ada di Jakarta Jl. Radio Dalam dan cabang Yogyakartaada di daerah Kalasan.
Ketua panitia PDS adalah seorang low vision (penglihatan dengan jarak sangat terbatas) yang bekerja di salah satu toko musik dijalan kaliurang, yogyakarta.Wakilnya berinisialUMR, bekerja di salah satu asuransi di daerah Gondolayu, Yogyakarta. Sedangkan sekretaris, berinisialPTRadalahmahasisiwi di salah satu perguruan tinggidi Yogyakarta. Dari info PDS, keduanya suami istri yang menyewa kamar kos di daerah Brontokusuman Yogyakarta.
“Jika bicara tentang ketua panitia adalah seorang difabel juga, kami pun jadi bertanya, apakah PDS dijadikan ketua hanya untuk menarik rekan-rekan difabel lainnya. Karena jika ditanya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan lomba, PDS tidak mengetahui dengan pasti. PDS mengatakan hal itu yang mengurus adalah wakil dan sekretarisnya,” ujarnya. (*)