Breaking News:

Satu Abad HB IX

Sri Sultan HB X Sampaikan Sabda Tomo

Sultan secara jelas mendukung Paku Alam yang saat ini bertahta

Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: Iwan Al Khasni
Sri Sultan HB X Sampaikan Sabda Tomo
TRIBUNJOGJA.COM/HASAN SAKRI GHOZALI
Sri Sultan Hamengku Buwono X di Bangsal Kencono, Keraton Yogyakarta, Kamis (10/5/2012)
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sejak sekitar pukul 14.00, wali kota dan sejumlah bupati dari DIY serta pejabat di pemprov DIY tampak sudah duduk di Bangsal Kencono Keraton Yogyakarta. Mengenakan pakaian peranakan, mereka tampak menunggu kemunculan Sri Sultan HB X sebagai Raja Keraton Yogyakarta yang akan memberikan Sabdo Tomo.

Melihat sejarahnya, Sabdo Tomo yang dikeluarkan oleh raja yang jumeneng di Keraton Yogyakarta ini jarang sekali dilakukan. Kerabat Keraton Yogyakarta, KRT Jatiningrat, menjelaskan, Sabdo Tomo bisa diartikan sebagai amanat yang disampaikan raja di saat genting.

"Terakhir Sabdo Tomo ini dilakukan oleh Sri Sultan HB IX, yaitu ketika  menyatakan bahwa Keraton dan Pakualaman bersama-sama bergabung mengamanatkan bergabung menjadi DIY, pada 30 Oktober 1945," jelas kerabat keraton yang akrab disapa Romo Tirun ini.

Para bupati dan wali kota serta pejabat penting di DIY tampak sudah mulai memasuki keraton sekitar pukul 14.00. Di antara para tamu tampak, Wali Kota Haryadi Suyuti, Badingah, Sri Surya Widati, Sekda Provinsi DIY Icsanuri dan beberapa pejabta lainnya. Mereka tampak duduk mengenakan peranakan.

Satu jam kemudian, Sultan yang mengenakan surjan bersama GKR Hemas, Pakualam IX serta diiringi para kerabat keluar dari Gedong Proboyekso. Tak ada dialog yang disampaikan Sultan dalam acara tersebut. Setelah keluar dari bangsal Proboyekso, Sultan, GKR Hemas dan Pakualam IX tampak duduk.

Setelah acara dibuka oleh pembawa acara dari keraton, Hamengkubuwono X langsung berdiri dan membacakan Sabdo Tomo. Sekitar lima menit, Sultan membacakan Sabdo Tomo dan tidak memberikan pernyataan diluar itu. Begitu selesai membacakan, Sultan, GKR Hemas, PA IX dan kerabat keraton menutupnya dengan mengucapkan terimakasih kepada tamu yang hadir kemudian langsung kembali masuk ke Gedong Jene.

Pernyataan sikap yang disampaikan Sultan melalui Sabdo Tomo ini menggunakan bahasa Jawa Bagongan. KRT Jatiningrat yang menjelaskan makna dari Sabdo Tomo ini menjelaskan, konflik Pakualaman adalah urusan internal Puro. Tapi ternyata, sekarang urusan konflik Pakualaman itu juga menjadi persoalan Keraton Yogyakarta.

"Sabdo Tomo adalah pangandikan atau amanat Ngerso Dalem yang memang disampaikan pada saat-saat genting dan mendesak. Karena situasinya mendesak juga, dikehendaki adanya persatuan  dan kesatuan antara Keraton dan Puro Pakualaman yang tidak bisa dipisahkan," terang pria yang akrab disapa Romo Tirun ini.

Menurutnya, dengan Sabdo Tomo ini, Sultan secara jelas mendukung Paku Alam yang saat ini bertahta, yaitu KPH Ambarkusumo yang kemudian bergelar Paku Alam IX. (TRIBUNJOGJA.COM)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved